Selasa, 25 Oktober 2011

NOFITA RUSDIANA DEWI 094284227


PENILAIN TERHADAP PENULISAN SEJARAH
1.      Sejarah dan Patriotisme
Pada saat krisis nasional, seperti jaman perang atau masa penyesuaian sesudah perang, sejarawan akan memperoleh tekanan-tekanan untuk menuliskan kisah perkembangan negerinya secara sentimentil jika perlu dengan sedikit mengorbankan kebenaran. Sejarah memang dapat digunakan untuk melatih warganegara yang setia jika kisah tanah airnya dapat menimbulkan rasa bangga pada diri kaum patriot atau jika kisah itu dapat demikian diubah dan disesuaikan sehingga nampak lebih mulia.
Para diktator dan para politikus demokratis yang kasar lebih sukar menganggap sejarah sebagai alat untuk mengembangkan patriotisme atas dasar penyelidikan yang tidak kritis. Pada akhir Perang Dunia Pertama pertentangan pendapat yang lama itu secara tajam memisahkan sejarawan dengan politikus di Amerika. Banyak para sejarawan yang dibenci dan diserang oleh para politikus karena tulisannya. Textbook-textbook yang dituliskan dalam jangka waktu kurang lebih satu dasawarsa berikutnya, kadang-kadang direvisi atas saran para penerbit untuk menghindarkan amarah para “patriot” di dalam dewan-dewan sekolah kota-kota besar.
Setelah perang dan ketakutan kepada komunis berkurang, sikap objektif ilmiah dibiarkan kembali menyusup ke buku sekolah. Beberapa tokoh merasa bahwa keserjanaan sejarah yang murni merupakan suatu bahaya. Para sejarawan didalam suatu struktur demokratis menutupi kekurangan dari pahlawan nasional dan tokoh-tokoh besar di dalam negara totaliter.
Patriotisme sebagai norma bagi penilaian penulisan sejarah harus selalu dicurigai oleh pembaca yang kritis. Memberi tempat yang lebih tinggi pada patriotisme di atas kebenaran sejarah mungkin pantas bagi seorang pelukis atau bahkan bagi seorang wartawan, tetapi tidak layak dilakukan oleh seorang sejarawan.

2.      Sejarah dan kepercayaan demokratis
Untuk bersikap adil terhadap golongan patriotik, mereka lebih memperhatikan masalah pendidikan pemuda daripada penelitian. Suatu patriotisme yang lebih baik dan langgeng dapat dikembangkan dengan jalan mengajarkan cita-cita demokrasi. Yang harus kita junjung tinggi di depan anak-anak adalah cita-cita kita dan bukannya sejumlah manusia yang naif yang masalahnya terdapat pada bidang pendidikan bukan pada bidang penelitian.

3.      Apakah sejarah suatu seni atau ilmu ??
Sejarah memiliki metode ilmiah, berjuta-juta fakta sejarah dapat dipastikan secara meyakinkan. Kebenaran dari peristiwa dibuktikan oleh dokumen yang telah diuji sedemikian seksama akan otentisitas dan kredibilitasnya, sehingga dianggap sebagai suatu fakta sebelum diketemukan dokumen yang lebih otentik dan lebih dapat dipercaya. Fakta-fakta itu merupakan bahan mentah bagi sejarah.
Untuk menjadikan bahan-bahan mentah menjadi suatu buku kita harus melakukan seleksi, penyusunan, dan diskripsi atau pengkisahan. Dalam batas-batas tertentu metode sejarah adalah ilmiah, yakni hasilnya harus dapat diverifikasi dan dapat disetujui atau ditolak oleh para ahli. Sebaliknya, historiografi besar kemungkinannya merupkan seni, filsafat, polemik, propaganda, pembelaan khusus.

4.      Sejarah, filsafat, dan etika
Karena begitu banyak variabel di dalam penyajian sejarah, maka kebenaran tidak lagi merupakan satu-satunya ukuran untuk mempertimbangkan nilai dari penulisan sejarah. Yang digunakan untuk mempertimbangkan nilai dari penulisan sejarah setelah kebenaran adalah masuk akalnya filsafat si pengarang. Seorang sejarawan tidak dapat menghindarkan sesuatu filsafat atau sesuatu kode etik. Sejarawan yang tidak memiliki azas-azas filsafat atau etis tidak memiliki ukuran untuk menghitung perubahan atau kontinuitas, dan karenanya tidak dapat menimbang perkembangan, kebangkitan, kejatuhan, pertumbuhan, kemacetan, keruntuhan, kesuburan atau kemandulan yang dibutuhkan dalam penulisan sejarah agar mempunyai kisah dan deskripsi yang baik. Selain itu juga diperlukan suatu filsafat mengenai tujuan dan ukuran tentang baik dan buruk.
Sejarawan terbesar pada masa lampau seperti Tacitus, Voltaire, dll menulis dengan suatu tujuan dan menggunakan ukuran-ukuran pertimbangan yang pasti. Untuk menilai ukuran mereka, kita harus memiliki ukuran sendiri. Oleh karena itulah sejarawan membutuhkan beberapa filsafat dan etika bukan saja untuk menulis sejarah, namun juga untuk mempertimbangkan secara cerdas penulisan sejarah oleh orang lain.
Sangat boleh jadi akan terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai masuk akal-tidaknya aturan-aturan itu. Sampai pada datangnya masa keselarasan filsafat yang masih sedemikian jauh, sejarawan harus bersikap toleran terhadap satu sama lain. Azas-azas filsafat seyogyanya tidak dipelajari dengan menghapalkan, melainkan juga harus digali dari dan yang sesuai dengan pengalaman kita.

5.      Sejarah dan langgam sastra
Langgam yang menjemukan terkadang menjadi sebab timbulnya salah pengertian. Sejarawan yang menulis sebuah cerita sejarah dengan tidak menarik merupakan sejarawan yang buruk. Seorang sejarawan profesional wajib melukiskan peristiwa-peristiwa yang paling menggairahkan dari masa lampau dan menghidupkan kembali suasana seperti pada masa lampau tersebut. Banyak buku sejarah yang disusun dengan kata-kata yang menjemukkan dan monoton.
Pengkritik lenggam para sejarawan, tidak mengharapkan para sejarawan menulis seperti Voltaire, Schiller, Macaulay atau Henry Adams. Mereka hanya menginginkan supaya sejarawan menulis secara sederhana, menghindarkan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pokok penulisan serta sikap yang “sok”, sehingga karangannya tepat pada sasaran
Langgam dapat dipelajari dengan usaha seperti: penulisan, revisi, dan penulisan kembali. Kemahiran langgam dapat dipelajari dengan jalan menggunakannya seacara terus-menerus, dan pengalaman yang bertambah akan memberikan pengertian yang lebih besar mengenai perilaku manusia. Sejarawan berbeda dengan pembaca roman. Sejarawan tidak menghayati hidup tokoh-tokohnya, melainkan menyuruh tokoh-tokohnya menghayati hidupnya, karena ia hanya dapat mengerti mereka dengan analogi, perbandingan, atau kontras dengan pengalamannya sendiri.
Sejarawan yang paling banyak pengalamannya adalah sejarawan yang terbaik. Berpengalaman paling banyak tidak sama artinya dengan berpetualangan paling banyak. Bila seseorang mempunyai jiwa yang imajinatif, mereka tidak perlu membakar kota atau menusuk bayi untuk dapat mengerti benci, takut, dan penderitaan.



6.      Langgam baik dan kesarjanaan baik
Setelah seorang sejarawan menuliskan kisah yang disimpulkannya dari sumber-sumber, maka seorang editor dengan selera sastra dapat “menuliskannya kembali”. Yang menjadi masalah adalah apabila seorang editor lebih mementingkan penulisan populer daripada sejarah yang baik. Si editor mungkin berhasil memberikan lebih banyak kegairahan dan kehalusan pada suatu karya sejarah yang serius, tapi resikonya mengurangi ketelitian dalam ungkapan dalam penulisan sejarah tersebut. Misalnya “Pada suatu hari yang untuk praktisnya diberi sebutan 12 Oktober 1492 sekelompok pelaut yang dipimpin oleh seseorang yang bernama didalam bahasa Italia Cristoforo Colombus mendarat pada suatu pulau yang rupa-rupanya adalah pulau yang sekarang dinamakan Watling Island”. Kalimat tersebut memberikan banyak penafsiran, yaitu sengketa mengenai kebangsaan Colombus, keraguan apakah Colombus atau anak buahnya yang pertama kali menginjakkan kakinya di pulau tersebut, keraguan mengenai pulau yang mana yang benar-benar didaratinya.
Terkadang pengarang bingung memilih antara ketelitian atau penulisan populer. Untuk seorang sarjana, seharusnya tetap memilih ketelitian daripada penulisan populer. Jika tujuan pengarang adalah menjual buku, maka sebaiknya ia harus memilih bahasa populer yang pokok dan tidak memberikan banyak penafsiran sehingga layak untuk dinikmati khalayak ramai.

7.      Penggunaan catatan bawah
Selain memilih antara ketelitian dan langgam yang baik, sejarawan juga harus memilih sikap mengetahui segalanya dan langgam argumentatif. Para sejarawan dalam usaha meyakinkan dan menyatakan harus diperkuat argumentasi dengan catatan bawah. Sejarawan yang meniadakan catatan bawah, berarti telah meniadakan sarana bagi orang lain untuk menguji kesimpulan-kesimpulannya. Catatan bawah memungkinkan pembaca yang cerdas untuk mengetahui bagaimana pengarang dapat mengetahui argumennya. Tambahan pula catatan bawah memungkinkan sejarawan mengetahui pengarang yang tajam untuk memperoleh ketelitian yang lebih besar.
Penyebab diadakannya catatan bawah adalah untuk menunjukkan sumber bagi sesuatu pernyataan yang dapat diragukan kebenarannya. Dengan demikian catatan bawah  berfungsi seperti panggilan terhadap seorang saksi di dalam pengadilan. Pada kutipan atau saduran dari sumber-sumber biasanya terdapat catatan bawah yang bertujuan untuk memungkinkan seorang ahli atau embaca yang berminat untuk mengverifikasi pernyataan yang diragukan dari kutipan-kutian tersebut.

8.      Penyalahgunaan catatan bawah
secara umum bawah tidak disukai karena sifat pengarang terkadang sok tau. Catatan bawah seperti itu biasanya mengandung identifikasi dari orang-orang yang disebutkan didalam naskah. Akan tetapi dokumen diperuntukkan sarjana-sarjana lain, dan bukan dipersiapkan untuk pembaca umum. Pengarang yang meletakkan catatan bawah yang disalah gunakan biasanya  memamerkan perlengkapan bibliografi atau pengetahuan akan bahasa asing pada diri pengarang.
Yang paling buruk adalah catatan bawah berisi tentang tambahan  hasil informasi yang baru diperoleh pengarang setelah selesai naskah tidak sempat dimasukkan ke dalam naskah karena kurang waktu. Karena sering kali catatan bawah diabaikan karena pengarang tidak mahir dalam menulis catan bawah. Maka seharusnya kita menghilangkan prasangka buruk terhadap penulisan catatan bawah dan melakukan bimbingan terhadap pengarang dalam menulis catatn bawah secara benar

9.      Sejarah dan selera popular
Dalam kenyataannya buku yang ditulis secara bagus sekali dengan catatan bawah berisi tentang masa lampau dari negara asing cenderung kurang laku. Penulisan buku baik sebagai sejarah ataupun sebagai sastra tidak harus selalu terlihat kaku dan monoton. Sesuai dengan perkembangan jaman penulisan buku tidak hanya sebatas dari suatu peristiwa- peristiwa nasional yang sejaman dimana tokoh-tokohnya hanya terdapat dalam suatu peristiwa saja melainkan tergantung pada selera populer.
Sikap berpedoman pada selera popular maka harus mengambil resiko dalam membatasi karya sastra yang rendah tapi juga dalam bidang perhatian yang sedikit dan sangat terbatas, seperti hal-hal yang baru saja terjadi. Biasanya hal-hal yang menjadi buah bibir atau pembicaraan yang berisi sensasi, klasik,exotis, erotis, dan patriotis

10.  Kewajiban penimbang buku
Untuk mengatasi merosotnya mutu sastra yang menjemukan maka diterbitkan majalah-majalah sejarah popular. Karena majalah seperti ini patut dipuji tapi tidak memberikan pengaruh yang banyak terhadap peningkatan karya-karya sejarah. Hal ini terjadi karena banyak juga majalah-majalah sejarah popular yang masih buruk jadi hanya untuk mengurangi saja tapi tidak dapat mengatasi seluruhnya.
Satu-satunya cara untuk mengatasi karya-karya sejarah yang menjemukan yaitu dengan cara mengadakan pengkritikan tinggi serta terus terang. Sehingga karya sejarah itu bisa ditimbang akan bisa bersaing atau tidak dengan buku-buku lain yang menjadi persoalan sama.

Komentar: cuplikan materi bab 1 dalam buku Memahami Sejarah karangan Lois Goslak ini memberikan banyak pengetahuan bagi para pembacanya, terutama para sejarahwan, penulis maupun para peneliti sejarah yang ingin menulis hasil buah pikiran mereka ke dalam bentuk sebuah buku. Penilain dalam penulisan sejarah dapat digunakan sebagai acuan dalam mengadakan kritik sejarah agar nantinya buku yang akan dihasilkan dikemudian hari dapat bersaing dengan buku-buku lainnya. Hal ini juga membantu agar penulisan sejarah kedepannya tidak lagi menjemukan. Seorang sejarawan profesional wajib melukiskan peristiwa-peristiwa yang paling menggairahkan dari masa lampau dan menghidupkan kembali suasana seperti pada masa lampau tersebut untuk menarik para pembaca dan para pelajar dalam mempelajari sejarah. Kutipan dari bapak presiden RI yang pertama “JASMERAH” yang memiliki arti jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Kutipan ini mengandung pesan bahwa kita semua tidak boleh melupakan sejarah bangsa ataupun dirinya karena itu penulisan sejarah harus sangat diperhatikan agar seluruh umat manusia cinta dan senang belajar sejarah.
Penampilan kelompok 1 dalam mempresentasikan bab 1 di depan kelas sudah cukup baik, materinya cukup jelas, disajikan dengan gaya bahasa yang cukup ringan sehinggah mudah untuk dipahami dan para penyaji materi telah memiliki persiapan yang cukup matang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar