PENILAIN TERHADAP PENULISAN SEJARAH
1.
Sejarah
dan Patriotisme
Pada saat krisis nasional, seperti jaman perang atau
masa penyesuaian sesudah perang, sejarawan akan memperoleh tekanan-tekanan
untuk menuliskan kisah perkembangan negerinya secara sentimentil jika perlu
dengan sedikit mengorbankan kebenaran. Sejarah memang dapat digunakan untuk
melatih warganegara yang setia jika kisah tanah airnya dapat menimbulkan rasa
bangga pada diri kaum patriot atau jika kisah itu dapat demikian diubah dan
disesuaikan sehingga nampak lebih mulia.
Para diktator dan para politikus demokratis yang
kasar lebih sukar menganggap sejarah sebagai alat untuk mengembangkan patriotisme
atas dasar penyelidikan yang tidak kritis. Pada akhir Perang Dunia Pertama
pertentangan pendapat yang lama itu secara tajam memisahkan sejarawan dengan
politikus di Amerika. Banyak para sejarawan yang dibenci dan diserang oleh para
politikus karena tulisannya. Textbook-textbook yang dituliskan dalam jangka
waktu kurang lebih satu dasawarsa berikutnya, kadang-kadang direvisi atas saran
para penerbit untuk menghindarkan amarah para “patriot” di dalam dewan-dewan
sekolah kota-kota besar.
Setelah perang dan ketakutan kepada komunis
berkurang, sikap objektif ilmiah dibiarkan kembali menyusup ke buku sekolah. Beberapa
tokoh merasa bahwa keserjanaan sejarah yang murni merupakan suatu bahaya. Para
sejarawan didalam suatu struktur demokratis menutupi kekurangan dari pahlawan
nasional dan tokoh-tokoh besar di dalam negara totaliter.
Patriotisme sebagai norma bagi penilaian penulisan
sejarah harus selalu dicurigai oleh pembaca yang kritis. Memberi tempat yang
lebih tinggi pada patriotisme di atas kebenaran sejarah mungkin pantas bagi
seorang pelukis atau bahkan bagi seorang wartawan, tetapi tidak layak dilakukan
oleh seorang sejarawan.
2.
Sejarah
dan kepercayaan demokratis
Untuk bersikap adil terhadap golongan patriotik,
mereka lebih memperhatikan masalah pendidikan pemuda daripada penelitian. Suatu
patriotisme yang lebih baik dan langgeng dapat dikembangkan dengan jalan
mengajarkan cita-cita demokrasi. Yang harus kita junjung tinggi di depan anak-anak
adalah cita-cita kita dan bukannya sejumlah manusia yang naif yang masalahnya
terdapat pada bidang pendidikan bukan pada bidang penelitian.
3.
Apakah
sejarah suatu seni atau ilmu ??
Sejarah memiliki metode ilmiah, berjuta-juta fakta
sejarah dapat dipastikan secara meyakinkan. Kebenaran dari peristiwa dibuktikan
oleh dokumen yang telah diuji sedemikian seksama akan otentisitas dan
kredibilitasnya, sehingga dianggap sebagai suatu fakta sebelum diketemukan
dokumen yang lebih otentik dan lebih dapat dipercaya. Fakta-fakta itu merupakan
bahan mentah bagi sejarah.
Untuk menjadikan bahan-bahan mentah menjadi suatu
buku kita harus melakukan seleksi, penyusunan, dan diskripsi atau pengkisahan.
Dalam batas-batas tertentu metode sejarah adalah ilmiah, yakni hasilnya harus
dapat diverifikasi dan dapat disetujui atau ditolak oleh para ahli. Sebaliknya,
historiografi besar kemungkinannya merupkan seni, filsafat, polemik,
propaganda, pembelaan khusus.
4.
Sejarah,
filsafat, dan etika
Karena begitu banyak variabel di dalam penyajian
sejarah, maka kebenaran tidak lagi merupakan satu-satunya ukuran untuk
mempertimbangkan nilai dari penulisan sejarah. Yang digunakan untuk
mempertimbangkan nilai dari penulisan sejarah setelah kebenaran adalah masuk
akalnya filsafat si pengarang. Seorang sejarawan tidak dapat menghindarkan
sesuatu filsafat atau sesuatu kode etik. Sejarawan yang tidak memiliki
azas-azas filsafat atau etis tidak memiliki ukuran untuk menghitung perubahan
atau kontinuitas, dan karenanya tidak dapat menimbang perkembangan,
kebangkitan, kejatuhan, pertumbuhan, kemacetan, keruntuhan, kesuburan atau
kemandulan yang dibutuhkan dalam penulisan sejarah agar mempunyai kisah dan
deskripsi yang baik. Selain itu juga diperlukan suatu filsafat mengenai tujuan
dan ukuran tentang baik dan buruk.
Sejarawan terbesar pada masa lampau seperti Tacitus,
Voltaire, dll menulis dengan suatu tujuan dan menggunakan ukuran-ukuran
pertimbangan yang pasti. Untuk menilai ukuran mereka, kita harus memiliki
ukuran sendiri. Oleh karena itulah sejarawan membutuhkan beberapa filsafat dan
etika bukan saja untuk menulis sejarah, namun juga untuk mempertimbangkan
secara cerdas penulisan sejarah oleh orang lain.
Sangat boleh jadi akan terdapat banyak perbedaan
pendapat mengenai masuk akal-tidaknya aturan-aturan itu. Sampai pada datangnya
masa keselarasan filsafat yang masih sedemikian jauh, sejarawan harus bersikap
toleran terhadap satu sama lain. Azas-azas filsafat seyogyanya tidak dipelajari
dengan menghapalkan, melainkan juga harus digali dari dan yang sesuai dengan
pengalaman kita.
5.
Sejarah
dan langgam sastra
Langgam yang menjemukan terkadang menjadi sebab
timbulnya salah pengertian. Sejarawan yang menulis sebuah cerita sejarah dengan
tidak menarik merupakan sejarawan yang buruk. Seorang sejarawan profesional
wajib melukiskan peristiwa-peristiwa yang paling menggairahkan dari masa lampau
dan menghidupkan kembali suasana seperti pada masa lampau tersebut. Banyak buku
sejarah yang disusun dengan kata-kata yang menjemukkan dan monoton.
Pengkritik lenggam para sejarawan, tidak
mengharapkan para sejarawan menulis seperti Voltaire, Schiller, Macaulay atau
Henry Adams. Mereka hanya menginginkan supaya sejarawan menulis secara
sederhana, menghindarkan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pokok
penulisan serta sikap yang “sok”, sehingga karangannya tepat pada sasaran
Langgam dapat dipelajari dengan usaha seperti:
penulisan, revisi, dan penulisan kembali. Kemahiran langgam dapat dipelajari
dengan jalan menggunakannya seacara terus-menerus, dan pengalaman yang
bertambah akan memberikan pengertian yang lebih besar mengenai perilaku
manusia. Sejarawan berbeda dengan pembaca roman. Sejarawan tidak menghayati
hidup tokoh-tokohnya, melainkan menyuruh tokoh-tokohnya menghayati hidupnya,
karena ia hanya dapat mengerti mereka dengan analogi, perbandingan, atau
kontras dengan pengalamannya sendiri.
Sejarawan yang paling banyak pengalamannya adalah
sejarawan yang terbaik. Berpengalaman paling banyak tidak sama artinya dengan
berpetualangan paling banyak. Bila seseorang mempunyai jiwa yang imajinatif,
mereka tidak perlu membakar kota atau menusuk bayi untuk dapat mengerti benci,
takut, dan penderitaan.
6.
Langgam
baik dan kesarjanaan baik
Setelah seorang sejarawan menuliskan kisah yang
disimpulkannya dari sumber-sumber, maka seorang editor dengan selera sastra
dapat “menuliskannya kembali”. Yang menjadi masalah adalah apabila seorang
editor lebih mementingkan penulisan populer daripada sejarah yang baik. Si
editor mungkin berhasil memberikan lebih banyak kegairahan dan kehalusan pada
suatu karya sejarah yang serius, tapi resikonya mengurangi ketelitian dalam
ungkapan dalam penulisan sejarah tersebut. Misalnya “Pada suatu hari yang untuk
praktisnya diberi sebutan 12 Oktober 1492 sekelompok pelaut yang dipimpin oleh
seseorang yang bernama didalam bahasa Italia Cristoforo Colombus mendarat pada
suatu pulau yang rupa-rupanya adalah pulau yang sekarang dinamakan Watling
Island”. Kalimat tersebut memberikan banyak penafsiran, yaitu sengketa mengenai
kebangsaan Colombus, keraguan apakah Colombus atau anak buahnya yang pertama
kali menginjakkan kakinya di pulau tersebut, keraguan mengenai pulau yang mana
yang benar-benar didaratinya.
Terkadang pengarang bingung memilih antara
ketelitian atau penulisan populer. Untuk seorang sarjana, seharusnya tetap
memilih ketelitian daripada penulisan populer. Jika tujuan pengarang adalah
menjual buku, maka sebaiknya ia harus memilih bahasa populer yang pokok dan
tidak memberikan banyak penafsiran sehingga layak untuk dinikmati khalayak
ramai.
7.
Penggunaan
catatan bawah
Selain memilih antara ketelitian dan langgam yang
baik, sejarawan juga harus memilih sikap mengetahui segalanya dan langgam
argumentatif. Para sejarawan dalam usaha meyakinkan dan menyatakan harus
diperkuat argumentasi dengan catatan bawah. Sejarawan yang meniadakan catatan
bawah, berarti telah meniadakan sarana bagi orang lain untuk menguji
kesimpulan-kesimpulannya. Catatan bawah memungkinkan pembaca yang cerdas untuk
mengetahui bagaimana pengarang dapat mengetahui argumennya. Tambahan pula
catatan bawah memungkinkan sejarawan mengetahui pengarang yang tajam untuk
memperoleh ketelitian yang lebih besar.
Penyebab diadakannya catatan bawah adalah untuk
menunjukkan sumber bagi sesuatu pernyataan yang dapat diragukan kebenarannya.
Dengan demikian catatan bawah berfungsi
seperti panggilan terhadap seorang saksi di dalam pengadilan. Pada kutipan atau
saduran dari sumber-sumber biasanya terdapat catatan bawah yang bertujuan untuk
memungkinkan seorang ahli atau embaca yang berminat untuk mengverifikasi pernyataan
yang diragukan dari kutipan-kutian tersebut.
8.
Penyalahgunaan
catatan bawah
secara umum
bawah tidak disukai karena sifat pengarang terkadang sok tau. Catatan bawah
seperti itu biasanya mengandung identifikasi dari orang-orang yang disebutkan
didalam naskah. Akan tetapi dokumen diperuntukkan sarjana-sarjana lain, dan
bukan dipersiapkan untuk pembaca umum. Pengarang yang meletakkan catatan bawah yang
disalah gunakan biasanya memamerkan
perlengkapan bibliografi atau pengetahuan akan bahasa asing pada diri
pengarang.
Yang paling
buruk adalah catatan bawah berisi tentang tambahan hasil informasi yang baru diperoleh pengarang
setelah selesai naskah tidak sempat dimasukkan ke dalam naskah karena kurang
waktu. Karena sering kali catatan bawah diabaikan karena pengarang tidak mahir
dalam menulis catan bawah. Maka seharusnya kita menghilangkan prasangka buruk
terhadap penulisan catatan bawah dan melakukan bimbingan terhadap pengarang
dalam menulis catatn bawah secara benar
9. Sejarah
dan selera popular
Dalam
kenyataannya buku yang ditulis secara bagus sekali dengan catatan bawah berisi
tentang masa lampau dari negara asing cenderung kurang laku. Penulisan buku
baik sebagai sejarah ataupun sebagai sastra tidak harus selalu terlihat kaku
dan monoton. Sesuai dengan perkembangan jaman penulisan buku tidak hanya
sebatas dari suatu peristiwa- peristiwa nasional yang sejaman dimana
tokoh-tokohnya hanya terdapat dalam suatu peristiwa saja melainkan tergantung
pada selera populer.
Sikap berpedoman
pada selera popular maka harus mengambil resiko dalam membatasi karya sastra
yang rendah tapi juga dalam bidang perhatian yang sedikit dan sangat terbatas,
seperti hal-hal yang baru saja terjadi. Biasanya hal-hal yang menjadi buah
bibir atau pembicaraan yang berisi sensasi, klasik,exotis, erotis, dan
patriotis
10. Kewajiban
penimbang buku
Untuk mengatasi merosotnya mutu sastra yang menjemukan maka diterbitkan
majalah-majalah sejarah popular. Karena majalah seperti ini patut dipuji tapi
tidak memberikan pengaruh yang banyak terhadap peningkatan karya-karya sejarah.
Hal ini terjadi karena banyak juga majalah-majalah sejarah popular yang masih
buruk jadi hanya untuk mengurangi saja tapi tidak dapat mengatasi seluruhnya.
Satu-satunya cara untuk mengatasi karya-karya sejarah yang menjemukan
yaitu dengan cara mengadakan pengkritikan tinggi serta terus terang. Sehingga
karya sejarah itu bisa ditimbang akan bisa bersaing atau tidak dengan buku-buku
lain yang menjadi persoalan sama.
Komentar: cuplikan materi bab 1 dalam buku Memahami Sejarah
karangan Lois Goslak ini memberikan banyak pengetahuan bagi para pembacanya,
terutama para sejarahwan, penulis maupun para peneliti sejarah yang ingin
menulis hasil buah pikiran mereka ke dalam bentuk sebuah buku. Penilain dalam
penulisan sejarah dapat digunakan sebagai acuan dalam mengadakan kritik sejarah
agar nantinya buku yang akan dihasilkan dikemudian hari dapat bersaing dengan
buku-buku lainnya. Hal ini juga membantu agar penulisan sejarah kedepannya
tidak lagi menjemukan. Seorang sejarawan profesional wajib
melukiskan peristiwa-peristiwa yang paling menggairahkan dari masa lampau dan
menghidupkan kembali suasana seperti pada masa lampau tersebut untuk menarik
para pembaca dan para pelajar dalam mempelajari sejarah. Kutipan dari bapak
presiden RI yang pertama “JASMERAH” yang memiliki arti jangan sekali-sekali
meninggalkan sejarah. Kutipan ini mengandung pesan bahwa kita semua tidak boleh
melupakan sejarah bangsa ataupun dirinya karena itu penulisan sejarah harus
sangat diperhatikan agar seluruh umat manusia cinta dan senang belajar sejarah.
Penampilan kelompok 1
dalam mempresentasikan bab 1 di depan kelas sudah cukup baik, materinya cukup
jelas, disajikan dengan gaya bahasa yang cukup ringan sehinggah mudah untuk
dipahami dan para penyaji materi telah memiliki persiapan yang cukup matang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar