Selasa, 08 November 2011

SEJARAH DESA MAINDU


DESA MAINDU

Desa Maindu terletak di kecamatan Kedungpring, kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Indonesia. Jumlah penduduknya 2.664 jiwa (2010) dan sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Desa Maindu terdiri dari satu dusun yaitu dusun Maindu dengan batas-batas desa sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan desa Bulumargi kecamatan Babat, sebelah selatan berbatasan dengan desa Blawirejo dan Sidomlangean kabupaten Lamongan, sebelah barat berbatasan dengan desa Banjarejo kabupaten Lamongan dan sebelah timur berbatasan dengan desa Sidombogem kecamatan Sugio
Lembaga pendidikan yang terdapat di desa Maindu yaitu terdiri dari satu Sekolah Dasar, satu Madrasah Ibtidaiyah dan dua Taman Kanak-kanak.
SEJARAH NAMA DESA MAINDU
Maindu terdiri dari kata main dan dadu yang memiliki sebuah makna. Dahulu kala di desa ini masyarakatya suka sekali berjudi, mulai dari sabung ayam, togel, remi, domino dan lain-lain. Mereka juga suka sekali menonton tayub dan memberi sawer kepada para penarinya. Hari-harinya dihabiskan hanya untuk bersenang-senang dengan sedikit bekerja. Saat itu masyarakat desa Maindu menganut agama Hindu. Pengaruh agama dan kebudayaan Hindu ini agaknya cukup besar dalam masyarakat desa Maindu, hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sebuah arca yang sampai saat ini masih dijaga, untuk di Lamongan sendiri ditemukan tiga buah lingga dan yoni yang terdapat di kecamatan Ngimbang, Kembangbahu, dan Sugio. Dalam hubunganya dengan kepercayaan keagamaan, berdasarkan temuan arca-arca syiwa yang tersebar di wilayah Lamongan, kiranya kebanyakan masyarakat Lamongan waktu itu beragama hindu aliran syiwa. Betapa agama ini telah demikian dalam dan luas pengaruhnya kedalam kehidupan dan budaya masyarakat Lamongan, dapat dilihat misalnya bentuk bangunan gapura yang berbentuk candi bentar dikompleks masjid sendang dhuwur. Kompleks masjid dan makam dengan gapura tersebut didirikan disuatu bukit yang disebut gunung Amintuno (Gunung pembakaran). Tentang pengaruh agama budha di Lamongan agaknya juga ada. Sekalipun tidak ada bukti peninggalan sejarah seperti arca budha dan lainya, tetapi dari penuturan orang-orang tua didesa-desa bahwa agama orang zaman dulu itu agama budha dan zamanya bukan zaman hindu, melainkan zaman kabudhan.
Suatu hari di desa ini (Maindu) terserang wabah penyakit yang mematikan, hampir sebagian besar masyarakatnya terserang wabah penyakit tersebut. Mereka telah mencari obat ke mana-mana, ada yang ke dukun, ada yang ke tabib tapi tetap saja tidak bisa sembuh dan akhirnya banyak yang meninggal sampai pada suatu hari datanglah sepasang suami istri penjual gerabah (tembikar) yang bernama mbah Sepanjang, ia juga memiliki keahlian untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Selain berjualan, mereka juga datang ke desa ini untuk menyebarkan agama Islam karena desa ini masih menyembah berhala dan menetap disini pada akhirnya. Pada awalnya, ia menyembuhkan seorang pemuda dari penyakit yang bersarang di tubuhnya dan saat masyarakat yang lain mendengar bahwa pemuda itu telah sembuh total, mereka ikut datang berbondong-bondong kerumah mbah sepanjang untuk berobat dan akhirnya semua masyarakat bisa sembuh total.
Pada akhirnya semua masyarakat desa Maindu ikut memeluk agama yang sama seperti yang di anut oleh sapasang suami istri tersebut yaitu agama islam. Untuk mengenang kesalahan yang telah di perbut oleh penduduk terdahulu maka desa ini diberi nama Maindu dengan maksud dijadikan sebagai suatu pelajaran hidup bagi mereka dan keturunannya kelak agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka.
ARCA DEN BAGUS
Arca desa Maindu menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan perwujutan dari Den Bagus beserta kedua istrinya yaitu Nyai Darmani dan Nyai Rasmani. Mereka ini merupakan sesepuh desa Maindu yang telah merawat desa ini dan sangat di hormati oleh penduduk setempat. Den Bagus pada masa hidupnya merupakan panutan bagi masyarakat, konon dahulu sebelum  beliau meninggal, beliau berpesan tidak ingin dimakamkan di tempat lain kecuali di tengah-tengah desa Maindu tetapi saat ini tidak diketahui makam itu tepatnya berada dimana karena makamnya telah tiada. Para penduduk setempat memberi penghormatan kepada beliau dengan cara membuat arca Den Bagus beserta istrinya yang sampai saat ini masih tetap dijaga dan di hormati. Desa Maindu terdiri dari tiga arca, yaitu: arca Den Bagus, Nyai Darmani dan Nyai Rasmani tetapi saat ini hanya tinggal arca Den Bagus karena arca Nyai Darmani dan Nyai Rasmani telah menghilang. Pada Arca Den Bagus terdapat gambar sebuah kerbau yang di naikki oleh Den Bagus tetapi untuk saat ini hanya gambar kerbau yang terlihat jelas dan kaki Den Bagus karena bagian badan dan kepala telah aus. Penduduk setempat menganggap bahwa Den Bagus beserta kedua istrinya adalah Sing Mbaurekso ing Deso Maindu pada jamanya (yang berkuasa di desa Maindu).
Setiap ada penduduk desa yang akan melaksanakan hajatan pernikahan, biasannya sebelum hari H, mereka datang ke arca ini untuk meminta restu secara langsung kepada Den Bagus dengan membawa berbagai macam makanan untuk sesajen. Ini dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan agar nanti acara pernikahannya berjalan lancar dan pernikahannya langgeng. Sesajen itu terdiri dari nasi tumpeng, ayam pangang, telur, dan rujak uni yang terdiri dari renginang dan berbagai macam jajanan pasar. Biasanya acara meminta doa restu ini dilakukan oleh ibu-ibu, salah satu dari mereka yang dianggap paling tua dan mengerti tentang tatacara pelaksanaanya yang memimpin doa, sebelum dimulai biasanya mereka membakar serat kelapa dulu sebagai penganti menyan atau semacamnya selain itu mereka juga membawa sejumlah uang logam untuk dijadikan wajib. Setelah doanya selesai, makanannya di bagi-bagikan kepada masyarakat yang ada disekitar situ tetapi untuk uangnya mereka tinggalkan di dekat arca tersebut.
Arca Den Bagus terletak di tengah-tengah desa Maindu di bawah pohon beringin dan disampingnya terdapat sebuah sumur yang sangat tua. Masyarakat setempat memperkirakan bahwa sumur ini telah ada sejak pertama desa ini berdiri, sumur ini dahulunya terbuat dari kijing kayu tetapi sekarang  ini telah diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman.
Setiap setahun sekali di sini diadakan acara sedekah bumi yaitu sebuah tradisi syukuran desa yang biasanya dilaksanakan setelah panen supaya desa Maindu tetap mendapatkan limpahan rizki dan dijauhkan dari mara bahaya dan ini juga merupakan ucapan syukur masyarakat. Sebelum acara itu dimulai, seluruh masyarakat desa Maindu mengadakan upacara bersih desa. Mereka gotong royong untuk membersihkan tempat yang akan digunakan untuk melangsungkan upacara sedekah bumi. Pada saat acara sedekah bumi setiap keluarga membawa makana yang di taruh di atas tempayan yang berupa nasi dan lauk pauk . Jika makanan telah terkumpul semua, makanan ini diletakkan di atas sumur yang sebelumnya telah ditutup dan dibacakan doa. Selesai dibacakan doa, masyarakat yang datang berebut untuk mendapatkan makanan itu. Pada malam harinya untuk menghibur masyarakat diadakan acara wayang dan sebagai wadah untuk mempererat tali silaturahmi.
Biasanya kalau sudah jam 17.000 WIB, jarang sekali ada masyarakat yang melintas di daerah sekitar sini kecuali kalau ada acara-acara tertentu sehingga ramai di datangi orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar