DESA
MAINDU
Desa
Maindu terletak di kecamatan Kedungpring, kabupaten Lamongan, Jawa Timur,
Indonesia. Jumlah penduduknya 2.664 jiwa (2010) dan sebagian besar masyarakatnya
berprofesi sebagai petani. Desa Maindu terdiri dari satu dusun yaitu dusun
Maindu dengan batas-batas desa sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan
desa Bulumargi kecamatan Babat, sebelah selatan berbatasan dengan desa Blawirejo
dan Sidomlangean kabupaten Lamongan, sebelah barat berbatasan dengan desa
Banjarejo kabupaten Lamongan dan sebelah timur berbatasan dengan desa
Sidombogem kecamatan Sugio
Lembaga
pendidikan yang terdapat di desa Maindu yaitu terdiri dari satu Sekolah Dasar,
satu Madrasah Ibtidaiyah dan dua Taman Kanak-kanak.
SEJARAH
NAMA DESA MAINDU
Maindu
terdiri dari kata main dan dadu yang memiliki sebuah makna. Dahulu kala di desa
ini masyarakatya suka sekali berjudi, mulai dari sabung ayam, togel, remi,
domino dan lain-lain. Mereka juga suka sekali menonton tayub dan memberi sawer kepada
para penarinya. Hari-harinya dihabiskan hanya untuk bersenang-senang dengan
sedikit bekerja. Saat itu masyarakat desa Maindu menganut agama Hindu. Pengaruh
agama dan kebudayaan Hindu ini agaknya cukup besar dalam masyarakat desa
Maindu, hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sebuah arca yang sampai saat ini masih dijaga,
untuk di Lamongan sendiri ditemukan tiga buah lingga dan yoni yang terdapat di
kecamatan Ngimbang, Kembangbahu, dan Sugio. Dalam hubunganya dengan kepercayaan
keagamaan, berdasarkan temuan arca-arca syiwa yang tersebar di wilayah
Lamongan, kiranya kebanyakan masyarakat Lamongan waktu itu beragama hindu
aliran syiwa. Betapa agama ini telah demikian dalam dan luas pengaruhnya
kedalam kehidupan dan budaya masyarakat Lamongan, dapat dilihat misalnya bentuk
bangunan gapura yang berbentuk candi bentar dikompleks masjid sendang dhuwur.
Kompleks masjid dan makam dengan gapura tersebut didirikan disuatu bukit yang
disebut gunung Amintuno (Gunung pembakaran). Tentang pengaruh agama budha di
Lamongan agaknya juga ada. Sekalipun tidak ada bukti peninggalan sejarah
seperti arca budha dan lainya, tetapi dari penuturan orang-orang tua
didesa-desa bahwa agama orang zaman dulu itu agama budha dan zamanya bukan
zaman hindu, melainkan zaman kabudhan.
Suatu
hari di desa ini (Maindu) terserang wabah penyakit yang mematikan, hampir
sebagian besar masyarakatnya terserang wabah penyakit tersebut. Mereka telah
mencari obat ke mana-mana, ada yang ke dukun, ada yang ke tabib tapi tetap saja
tidak bisa sembuh dan akhirnya banyak yang meninggal sampai pada suatu hari
datanglah sepasang suami istri penjual gerabah (tembikar) yang bernama mbah
Sepanjang, ia juga memiliki keahlian untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Selain berjualan, mereka juga datang ke desa ini untuk menyebarkan agama Islam
karena desa ini masih menyembah berhala dan menetap disini pada akhirnya. Pada
awalnya, ia menyembuhkan seorang pemuda dari penyakit yang bersarang di
tubuhnya dan saat masyarakat yang lain mendengar bahwa pemuda itu telah sembuh
total, mereka ikut datang berbondong-bondong kerumah mbah sepanjang untuk
berobat dan akhirnya semua masyarakat bisa sembuh total.
Pada
akhirnya semua masyarakat desa Maindu ikut memeluk agama yang sama seperti yang
di anut oleh sapasang suami istri tersebut yaitu agama islam. Untuk mengenang
kesalahan yang telah di perbut oleh penduduk terdahulu maka desa ini diberi
nama Maindu
dengan maksud dijadikan sebagai suatu pelajaran hidup bagi mereka dan
keturunannya kelak agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama yang telah
dilakukan oleh pendahulu mereka.
ARCA
DEN BAGUS
Arca
desa Maindu menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan perwujutan dari
Den Bagus beserta kedua istrinya yaitu Nyai Darmani dan Nyai Rasmani. Mereka
ini merupakan sesepuh desa Maindu yang telah merawat desa ini dan sangat di
hormati oleh penduduk setempat. Den Bagus pada masa hidupnya merupakan panutan
bagi masyarakat, konon dahulu sebelum
beliau meninggal, beliau berpesan tidak ingin dimakamkan di tempat lain
kecuali di tengah-tengah desa Maindu tetapi saat ini tidak diketahui makam itu
tepatnya berada dimana karena makamnya telah tiada. Para penduduk setempat
memberi penghormatan kepada beliau dengan cara membuat arca Den Bagus beserta
istrinya yang sampai saat ini masih tetap dijaga dan di hormati. Desa Maindu
terdiri dari tiga arca, yaitu: arca Den Bagus, Nyai Darmani dan Nyai Rasmani
tetapi saat ini hanya tinggal arca Den Bagus karena arca Nyai Darmani dan Nyai
Rasmani telah menghilang. Pada Arca Den Bagus terdapat gambar sebuah kerbau
yang di naikki oleh Den Bagus tetapi untuk saat ini hanya gambar kerbau yang
terlihat jelas dan kaki Den Bagus karena bagian badan dan kepala telah aus.
Penduduk setempat menganggap bahwa Den Bagus beserta kedua istrinya adalah Sing
Mbaurekso ing Deso Maindu pada jamanya (yang berkuasa di desa Maindu).
Setiap
ada penduduk desa yang akan melaksanakan hajatan pernikahan, biasannya sebelum
hari H, mereka datang ke arca ini untuk meminta restu secara langsung kepada
Den Bagus dengan membawa berbagai macam makanan untuk sesajen. Ini dilakukan
oleh masyarakat dengan tujuan agar nanti acara pernikahannya berjalan lancar
dan pernikahannya langgeng. Sesajen itu terdiri dari nasi tumpeng, ayam
pangang, telur, dan rujak uni yang terdiri dari renginang dan berbagai macam
jajanan pasar. Biasanya acara meminta doa restu ini dilakukan oleh ibu-ibu,
salah satu dari mereka yang dianggap paling tua dan mengerti tentang tatacara
pelaksanaanya yang memimpin doa, sebelum dimulai biasanya mereka membakar serat
kelapa dulu sebagai penganti menyan atau semacamnya selain itu mereka juga
membawa sejumlah uang logam untuk dijadikan wajib. Setelah doanya selesai,
makanannya di bagi-bagikan kepada masyarakat yang ada disekitar situ tetapi
untuk uangnya mereka tinggalkan di dekat arca tersebut.
Arca
Den Bagus terletak di tengah-tengah desa Maindu di bawah pohon beringin dan
disampingnya terdapat sebuah sumur yang sangat tua. Masyarakat setempat
memperkirakan bahwa sumur ini telah ada sejak pertama desa ini berdiri, sumur
ini dahulunya terbuat dari kijing kayu tetapi sekarang ini telah diperbaharui sesuai dengan
perkembangan zaman.
Setiap
setahun sekali di sini diadakan acara sedekah bumi yaitu sebuah tradisi
syukuran desa yang biasanya dilaksanakan setelah panen supaya desa Maindu tetap
mendapatkan limpahan rizki dan dijauhkan dari mara bahaya dan ini juga
merupakan ucapan syukur masyarakat. Sebelum acara itu dimulai, seluruh
masyarakat desa Maindu mengadakan upacara bersih desa. Mereka gotong royong
untuk membersihkan tempat yang akan digunakan untuk melangsungkan upacara
sedekah bumi. Pada saat acara sedekah bumi setiap keluarga membawa makana yang
di taruh di atas tempayan yang berupa nasi dan lauk pauk . Jika makanan telah
terkumpul semua, makanan ini diletakkan di atas sumur yang sebelumnya telah
ditutup dan dibacakan doa. Selesai dibacakan doa, masyarakat yang datang berebut
untuk mendapatkan makanan itu. Pada malam harinya untuk menghibur masyarakat
diadakan acara wayang dan sebagai wadah untuk mempererat tali silaturahmi.
Biasanya
kalau sudah jam 17.000 WIB, jarang sekali ada masyarakat yang melintas di
daerah sekitar sini kecuali kalau ada acara-acara tertentu sehingga ramai di
datangi orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar