Jumat, 06 Januari 2012

PERGERAKAN NASIONAL DI SULAWESI TENGAH (1900-1942)


MAKALAH
SEJARAH NASIONAL INDONESIA V
“PERGERAKAN NASIOANAL DI SULAWESI TENGAH (1900-1942)”


Disusun Oleh:
NOFITA RUSDIANA DEWI
094284227
C

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU SOSIAL
S1 PENDIDIKAN SEJARAH
2011
KATA PENGANTAR

Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Pemurah, makalah Sejarah Nasional Indonesia V dengan judul Pergerakan Nasional di Sulawesi Tengah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Meskipun proses penulisan ini mengalami beberapa kendala namun, berkat kesungguhan dan kerja keras serta bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun secara tidak langsung, kendala-kendala itu dapat diatasi.
Makalah ini di susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Sejarah Nasional Indonesia V yang telah diberikan oleh Ibu/Bapak Dosen. Dalam makalah  ini disajikan penjelasan tentang keadaan pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Tengah pada tahun 1900-1942, proses terjadinya pergerakan nasional dan kondisi masyarakat Sulawesi Tengah selam kurun waktu 1900-1942.
Saya telah berusaha sebaik mungkin untuk mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang bisa membantu dalam penulisan makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saya sebagai penulis mengakui bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Sehubungan dengan hal tersebut, tegur sapa, saran, dan kritik yang bersifat membangun agar buku ini menjadi lebih baik sangat diharapkan dan diterima dengan tangan terbuka. Mudah-mudahan makalah sederhana ini bermanfaat bagi para peminat yang ingin dan lebih memehami tentang Pergerakan Nasional di Sulawesi Tengah 1900-1942.









Punulis

II
DAFTAR ISI

Halaman Judul......................................................................................................I
Kata Pengantar...................................................................................................II
Daftar Isi.............................................................................................................III
BAB I Pendahuluan ...........................................................................................1
1.1  Latar Belakang ...........................................................................................1
1.2  Batasan Masalah .......................................................................................2
1.3  Rumusan Masalah ....................................................................................2
1.4  Tujuan .........................................................................................................2
1.5  Manfaat ......................................................................................................3
BAB II Pembahasan ..........................................................................................4
   2.1 Keadaan Pemerintahan Belanda di Sulawesi Tengah (1900-1942) .....4
   2.2 Proses Pergerakan Nasioal di Sulawesi Tengah ...................................7
   2.3 Kehidupan Masyarakat di Sulawesi Tengah (1900-1942) ...................9
BAB III Penutup ..............................................................................................17
   3.1 Kesimpulan ..........................................................................................17
Daftar Pustaka .................................................................................................19















III
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Nasionalisme adalah jantung kehidupan suatu negara dan merupakan modal utama tegaknya suatu bangsa. Akan tetapi, apakah nasionalisme itu?
Nasionalisme pada hakikatnya adalah manifestasi dari kesadaran nasional dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. Pengabdian ini tidak mengenal batas ruang dan waktu. Jika rasa kebangaan bernegara dalam suatu negara telah luntur maka itu adalah sinyal bahwa semangat nasional telah menurun dan berarti keruntuhan negara sudah dekat. Meskipun demikian, kesadaran nasional tidak begitu saja muncul dalam setiap masyarakat di muka bumi ini.
Kesadaran nasional di Indonesia muncul dan sangat terlihat jelas ketika melawan kolonialisme. Tahun 1900-1945 (sebelum kemerdekaan) dalam sejarah Indonesia dikatakan bahwa pada masa ini merupakan masa pergerakan rakyat Indonesia atau pergerakan Indonesia. Pergerakan Indonesia meliputi semua macam aksi yang delakukan dengan organisasi secara modern ke arah perbaikan hidup untuk bangsa Indonesia, karena tidak puasnya dengan keadaan masyarakat yang ada[1].
Pergerakan Nasioanal ini muncul hampir diseluruh wilayah Indonesia dan salah satunya yang akan kita bahas adalah pergerakan nasionalisme di Sulawesi Tengah. Nasionalisme ini pada umumnya timbul karena adanya rasa ketidak puasan terhadap pemerintahan Belanda dan keinginan yang kuat untuk membentuk suatu pemerintahan sendiri. Timbulnya pergerakan Nasioanal yang bersifat organisasi di Sulawesi Tengah ini tidak luput dari pengaruh organisasi pergerakan yang telah lebih dahulu muncul di Jawa. Karena merasa memiliki kepentingan dan tujuan yang sama maka oraganisasi-organisasi yang berasal dari Jawa mendapatkan sambutan dan diterima oleh masyarakat setempat. Persatuan inilah yang pada akhirnya menjadi alat pemersatu bangsa dan muncul dalam diri setiap masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia dan hal inilah yang pada akhirnya mengantarkan Indonesia menuju ke kemerdekaan.

1.2  Batasan Masalah
Penulisan makalah ini hanya dibatasi pada pergerakan nasioanl di Sulawesi Tengah pada kurun waktu 1900-1942.

1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana keadaan pemerintahan Hindia-Belanda di Sulawesi Tengah?
2.      Bagaimana proses terjadinya pergerakan nasioanal di Sulawesi Tengah?
3.      Bagaimana kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah selama kurun waktu 1900-1942?

1.4  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui keadaan pemerintahan Hindia-Belanda di Sulawesi Tengah yang pada akhirnya menimbulkan suatu pergerakan.
2.      Untuk mengetahui terjadinya proses pergerakan nasioanal di Sulawesi Tengah.
3.      Untuk mengetahui kehidupan masyarakat di Sulawesi Tengah selama kurun waktu 1900-1942.

1.5  Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan pemahaman yang lebih mengenai peristiwa pergerakan nasional yang terjadi di Sulawesi Tengah.
2.      Sebagai salah satu kajian dalam matakuliah Sejarah Nasioanal Indonesia V.
3.      Sebagai bahan diskusi bagi mahasiswa agar dapat lebih memahami peristiwa pergerakan nasional di Sulawesi Tengah dan sumbangsihnya bagi Indonesia.
4.      Manambah pemahaman dan cakrawala berfikir bagi penulis.






























BAB II
PEMBAHASAN

Pada awalnya terdapat beberapa kerajaan yang mengadakan perlawanan senjata untuk mempertahankan kemerdekaannya dari  pihak penjajah. Namun karena kekalahan dalam teknik persenjataan dan adanya penghianatan dari bangsa sendiri yang selalu membantu pihak Belanda, akhirnya satu persatu kerajaan-kerajaan yang berada di Sulawesi Tengah dapat ditaklukkan oleh Belanda, terutama daerah-daerah pesisir panatai. Akibatnya sebagian raja-raja yang melawan tadi diasingkan Belanda atau tetap dijadikan raja tapi sudah dukuasai dengan penandatanganan kontrak pengakuan pada kekuasaan Belanda[2].
Selain itu, pihak Belanda juga mendirikan kerajaan-kerajaan baru yang merupakan pecahan dari kerajaan besar yang tadinya dengan keras melawan pihak Belanda. Seperti pembentukan kerajaan Una-una dari kerajaan Tojo/Una-una, kerajaan Dolo yang merupakan pecahan dari kerajaan Sigi/Dolo, kerajaan Bungku yang merupakan pecahan dari kerajaan Mori, dan kerajaan Banggai yang dibagi menjadi kerajaan Banggai Lautan dan Banggai Daratan. Pada umumnya yang dijadikan penguasa pada kerajaan-kerajaan baru ini merupakan keluarga dekat dari penguasa sebelumnya yang mengakibatkan wilayahnya terbagi, rakyat terbagi, dan hubungan keluargapun retak.
Hal ini merupakan salah satu siasat dari pihak Belanada untuk mencegah timbulnya suatu kekuatan besar yang akan memberontak kepadanya. Apabila terjadi pergantian penguasa atau raja disuatu kerajaan maka harus melalui persetujuan dan dipilih pihak Belanda. Yang dipilih adalah orang yang dapat dipengaruhi dan taat pada Belanda. Kekuasaan raja-raja ini kekuasaanya dibatasi oleh peraturan yang dibuat oleh Belanda.

2.1 Pemerintahan Hindia-Belanda di Sulawesi Tengah

Setelah dapat menguasai pulau Jawa, Belanda mulai meluaskan kekuasaannya antaralain ke Sulawesi. Sebelum menanamkan kekuasaannya di Sulawesi Tengah, pemerintahan Hindia Belanda telah lama berkuasa di Sulawesi Selatan (Makassar) dan Sulawesi Utara[3].
Di tahun 1905 Pulau Sulawesi dibagi menjadi dua Propinsi, yaitu: Sulawesi Selatan dengan ibu kotanya di Makassar dan Sulawesi Utara dengan batas pegunungan Tokolekayu disebelah selatan danau Poso. Gubernur dan Residen secara organisator berada dibawah Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Batavia. Susunan aparaturnya sebagai berikut:
Tiap-tiap Propinsi terbagi dalam afdeling dikepalai seorang Asisten Residen dari turunan Belanda totok atau Indo-Belanda. Tiap-tiap afdeling terbagi lagi kedalam onderafdeling masing-masing dikepalai seorang Kontrolir atau Civiel Gezaghebber yang juga tururnan Belanda totok atau Indo-Belanda. Dibawah itu baru dijumpai landschap yang dikepalai seorang raja. Raja-raja yang diakui oleh pemerintahan Belanda karena pro Belanda atau karena hasil pengangkatan Belanda dan yang menjalankan pemerintahan sesuai kehendak dan kemauan Belanda[4].

Pada masa ini 1903-1918, daerah Sulawesi Tengah sebagian masuk wilayah Gubernur Makasar dan masuk bagian afdeling Oost Celebes sedangkan yang lainnya masuk dalam keresidenan Manado adalah afdeling Donggala yang meliputi onderafdeling-onderafdeling Toli-toli, Palu, Poso, dan Parigi. Onderafdeling Kolonadale dan Onderafdeling Banggai masuk dalam wilayah afdeling Oost Celebes dengan ibu kotanya di Bau-bau.
Sedangkan pada tahun 1919, wilayah Sulawesi Tengah dibagi lagi menjadi dua afdeling, yaitu:
1.      Afdeling Donggala dengan ibu kotanya Donggala dan terdiri dari:
a.       Onderafdeling Donggala ibu kota Donggala.
b.      Onderafdeling Toli-toli ibu kota Toli-toli.
c.       Onderafdeling Palu ibu kota Palu.
d.      Onderafdeling Buol ibu kota Palu.
2.      Afdeling Poso dengan ibu kotanya Poso dan terdiri dari:
a.       Onderafdeling Poso ibu kota Poso.
b.      Onderafdeling Parigi ibu kota Parigi.
c.       Onderafdeling Kolonadale ibu kota Kolonadale.
d.      Onderafdeling Banggai ibu kota Banggai.[5]
Tahun 1906, Belanda masuk ke Banggai dan tahun 1908 raja Abd. Rahmat mendatangani korte verklaring setelah Banggai lepas dari Ternate dan memperoleh statu baru Zelfbesturende landschap dan digantikan oleh raja Awaludin Haji (1925-1940). Belanda membentuk Gouverment Celebes en Onderhorigheden dimana Banggai masuk dalam Afdeling Oost Celebes dengan status Onderafdeling 1908-1924. Dan sejak tahun 1922 Landschap Banggai pecah menjadi dua Onderafderling yaitu Banggai Darat dengan ibu kotanya di Luwuk dan Banggai Laut dengan ibu kotanya di kota Banggai. Banggai Laut ini dimasukkan kedalam Afdeling Poso dengan nama Onderafdeling Banggai dan masuk kedalam wilayah keresidenan Manado.
Di Ofderafdeling Donggala      : Kerajaan Banawa dan Tawaeli.
Di Onderafdeling Palu              : Kerajaan Palu, Sigi Biromaru Dolo dan Kulawi.
Di Onderafdeling Poso             : Kerajaan Tojo Una-una, Poso dan Lore.
Di Onderafdeling Parigi            : Kerajaan Parigi dan Moutog.
Di Onderafdeling Kolonadale   : Kerajaan-kerajaan Mori dan Bungku.
Di Onderafdeling Banggai         :Kerajaa-kerajaan Banggai Darat dan Banggai Laut.
Di Onderafdeling Toli-toli          : Kerajaan Toli-toli.
Di Onderafdeling Buol               : Kerajaan Buol[6].
Pada tahun 1919-1938, Onderafdeling Buol masuk ke dalam wilayah keresidenan Gorontalo dan dari tahun 1938-1942 di Sulawesi Tengah terdapat kerajaan-kerajaan sebagai berikut:
Di Onderafdeling Donggala      : Kerajaan Banawa dan Tawaeli
Di Onderafdeling Palu              : Kerajaan Palu, Sigi Biromaru, Dolo dan Kulawi.
Di Onderafdeling Poso             : Kerajaan Tojo, Poso, Lore dan Una-una.
Di Onderafdeling Parigi            : Kerajaan Parigi dan Moutong.
Di Onderafdeling Luwuk          : Kerajaan Banggai Laut dan Banggai Darat.
Di Onderafdeling Toli-toli        : Kerajaan Toli-toli[7].
Pada tanggal 28 Agustus 1903 terbentuk Midden Celebes sehingga Donggala menjadi tempat kedudukan Asisten Residen. Yang mula-mula menjadi Asisten Residen adalah M.J.H. Engelenbeg, pada tahun 1932 digantikan oleh Hiersman. Selain kedua orang ini kurang diketahui siapa lagi penggatinya. Sedangkan Asisten Residen yang pernah memerintah di Onderafdeling Poso adalah: de Rook, Platt. J.J. Mendelaar, de Haze, Tevelde, dan Rijsdijk.

2.2                   Proses Pergerakan Nasional di Sulawesi Tengah

Awal pergerakan Nasional yang terjadi di Sulawesi Tengah berbentuk perlawanan pada kekuasaan pemerintahan Belanda yang akan menjajah daerah ini pada awal abad XX. Selain berbentuk perlawanan senjata, perlawan ini juga ada yang berbentuk dalam sikap menolak atau membatalkan perjanjian. Sebab-sebab munculnya perlawanan terhadap pihak Belanda antara lain sebagai berikut:
a.       Sebelum kedatangan Belanda di Sulawesi Tengah, raja-raja yang memerintah memiliki kekuasaan dan hukum berdasarkan adat yang telah berlaku secara turun-temurun. Namun setelah kedatangan pihak Belanda mereka merasa kekuasaannya dikurangi atau bahkan ada yang hilang.
b.      Belanda datang dengan memaksakan kekuasaanya, terkadang pemaksaan ini menggunakan kekerasan dengan tentaranya yang dikenal dalam masyarakat sebagai tentara Kompania. Mereka menumpas dengan kejam kelompok-kelompok suku bersama rajanya yang menolak penjajahan.
c.       Rakyat tidak mau menerima kerja paksa atau rodi yang dibebankan kepada mereka oleh pihak Belanda pada waktu-waktu yang telah ditentukan padahal mereka telah terbiasa hidup bebas.
d.      Menolak pembayaran pajak yang telah ditentukan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Besarnya pajak ini kuga ditentukan oleh pihak pemerintahan (penang ung pajak).
e.       Bagi kerajaan-kerajaan yang telah memeluk agama Islam dengan taat menganggap bahwa orang Belanda itu kafir yang suka bertindak sewenang-wenang. Mereka menganggap bahwa orang Islam tidak sepantasnya tunduk pada orang kafir.
Setelah pergerakan-pergerakan ini dapat dihentikan dengan kekerasan senjata maka muncul pergerakan yang memakai wadah organisasi sebagai alat. Organisasi pergerakan yang pertama masuk pengaruhnya adalah Sarikat Islam (SI). Daerah yang pertama kali menerima pengaruh dari Sarikat Islam adalah Kerajaan Buol Toli-toli (1916), kemudian kerajaan Donggala/Parigi (1917), daerah pesisir Mori (1918/1919), dan daerah Luwuk Banggai (1926) yang dibawa oleh A. Muis dan Tjokroaminoto ketika berkunjung ke Sulawesi Utara Tengah. Setelah itu pengaruh dari Partai Nasional Indonesia (PNI) di daerah Donggala dan sekitarnya (1927) dan Buol (1928). Disusul pergerakan sosial agama Muhammadiyah di Donggala, Wani dan Parigi pada tahun 1932/1933 yang dibawa oleh Buya Hamka dan Umar Efendi. Pengaruh ini meluas ke daerah Parigaman dan Bunta yang dibawa oleh Kardiat, Abu Hasan, dan Umar Efendi. Daerah Buol menerima Muhammadiyah melalui Gorontalo yang dibawa oleh Tjami Lamato. Meskipun dengan dasar yang berbeda-beda (nasionalisme dan agama) namun semua organisasi-organisasi tersebut membawa ide kebangsaan yang ditanamkan pada masyarakat Sulawesi Tengah untuk memperjuangkan masyarakat Indonesia yang bebas merdeka lepas dari tangan penjajahan.
Di Buol penyebaran SI melalui rajanya dan pengeran Mangkona sebagai pedagang waktu beliau di Jawa telah masuk sebagai anggota Syarikat Dagang Islam (SDI) yang pada akhirnya berubah menjadi SI dan kedua tokoh ini kembali ke Buol untuk membentuk organisasi SI dengan pengurus pertamanya: Presiden dijabat oleh Raja Binol; Wakil Presiden oleh Pangeran Mangkona; Sekretaris oleh T. Mangkona.
Tak lama kemudian Toli-toli juga membentuk organisasi SI dengan pengurusnya: Presiden oleh Tegelan Hi. Moh. Ali (Raja muda); Wakil Presiden oleh Mogi Hi. Ali (Putera Raja Toli-toli); Sekretaris oleh Ambon Pakka; Anggota: Muh. Sirrajudin (Syahbandar) dan Busuna (jogugu).
Sedangkan di Palu SI baru berdiri pada tahun 1977 yang dibawa oleh H.O.S Tjokroaminoto dengan susunan pengurus pertamanya: Presiden oleh Yoto Daeng Pawindu; Wakil Presiden oleh Abd. Rahim Pakmundi; Sekretaris oleh Daeng Maroa D.S; Komisaris oleh Palimuri dan kawan-kawan.
Dalam waktu yang relatif singkat SI mendapatkan sambutan dari sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah. Namun pemerintahan Belanda beserta aparatnya dan raja-raja tidak menyetujui perkembangan partai ini karena dianggap memberikan pengaruh yang akan menganggu kekuasaanya. Raja Palu Paramsi beserta aparatnya membentuk Persatuan Raja Palu (PRP) untuk melawan SI namu SI tetap berkembang meluas ke daerah-derah kerajaan-kerajaan Dolo, Keleke, Biromaru, Tawaeli, Donggal, Wani, Tinombo dan pada akhirnya di Palu SI memperoleh dukungan yang besar dari raja Dolo Datu Pamusu.
Pemerintahan Belanda merasa SI dapat menancam kelangsungan penjajahan maka tokoh-tokoh SI banyak yang diasingkan dengan tuduhan penghasut rakyat untuk melawan pemerintahan yang sah melalui partai agama. Datu Pamusu diasingkan ke Ternate, Yoto Daeng Pawindu dan Abd. Rahim Pakamundi diasingkan ke Sukamiskin, Bandung selama tiga tahun. Meskipun demikian SI tetap berlanjut dan mendapatkan sambutan hangat dari rakyat. Pimpinanya dilanjutkan oleh Daeng Maroa bersama kawan-kawan samapi tahun 1929 SI meningkatkan perjuangannya dan menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).
Dengan adanya kunjungan A. Muis ke Sulawesi Tengah (Buol Toli-toli) pada tahun 1918 makin banyak rakyat memasukinya. Dalam pidato A. Muis di muka rapat umum cukup keras terutama mengenai belasting dan kerja paksa (heredienst)[8]. Setelah itu dalam kurun waktu beberapa bulan timbul pemberontakan Salumpaga yang membuat kaget parlemen di negeri Belanda. Akibatnya di Toli-toli ditempatkan pemerintahan militer dan kaum pergerakan dikekang. Di Parigi timbul pemberontakan Dolago yang dipimpin Abd. Wahid Toana dan Mrjun Habie. Sedangkan di Buol kaum pergerakan bersifat kooperatif sehingga Belanda juga bersifat lunak kepada mereka.
Di beberapa tempat timbul perlawanan-perlawanan (perang) terhadap pihak Belanda yaitu: Perlawanan di daerah Poso, Perang Donggala, Perang Sigi, dan Perang Kulawi.

2.3                   Kehidupan Masyarakat Sulawesi Tengah 1900-1042

1.      Pengaruh Kekuatan Eropa
Setalah berkuasanya pemerintahan Hindi Belanda di Sulawesi Tengah, mereka mulai menyusun rencana kerja untuk mencapai tujuannya sesuai dengan progaram. Belanda menjajah Indonesia untuk mengambil kekayaan Indonesia yang berupa hasil pertanian, hutan pertambangan dan laian-lain. Untuk memudahkan hal tersebut, mula-mula pemerintahan Hindia Belanda mamaksakan pembuatan jalan raya (kerja rodi) untuk mempermudah pengangkutan hasil hutan ke daerah pantai atau pelabuhan. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah dan terdidik, pemerintahan Hindia Belanda berusaha membangun Sekolah yang disebut sekolah kelas dua (sekolah rakyat tiga tahun) sedangkan di kota mereka membangun sekolah kelas satu (Vervolgschlolen) yang merupakan sekolah sambungan bagi anak-anak yang telah menamatkan pada sekolah kelas dua yang ada di desa-desa. Selain itu ada para utusan Zending yang tugas utamanya adalah menyebarkan agama Kristen.
Pada tahun 1907 pemrintahan setempat (Sulawesi Tengah) memberikan subsidi setiap tahunnya kepada sekolah-sekolah yang diasuh oleh Zending, f 5.000 (lima ribu gulden)[9]. Namun pada perkembanganya subsidi itu tidak mencukupi sehingga pada tahun 1924 pemerintahan pusat memberikan subsidi yang besar sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan sekolah-sekolah Zending.
Di Sulawesi Tengah dilakukan penanaman paksa tanaman-tanaman kopi, kelapa, dan pohon palma dan terdapat beberapa Onderneming milik orang-orang Belanda yang pada saat kemerdekaan jatuh ke tangan orang-orang Cina yang kaya. Untuk pengairan sawah, pemerintahan Hindia Belanda mengusahakan pembangunan bendungan air, misalnya: bendungan air di Olobuju dengan aliran sungai di kec. Biromaru kab. Donggala. Sejak tahun 1897 di Buol berdiri Mijnbouw Maatschappi (perusahaan tambang) di Paleleh. Pekerja-pekerja kasarnya adalah rakyat Buol namun tambang ini mati pada tahun 1929.
Pengaruh Eropa lainnya berbentuk disiplin yang keras dalam segala bidang pemerintahan dan kehidupan. Dalam bidang hukum dan penegakkan norma-norma disusun dan dikenalkanya sistem pengadilan dan penjara  pada waktu itu. Belanda juga memupuk kehidupan feodalisme pada kehidupan raja-raja agar terjadi jurang antara rakyat dengan raja-rajanya.

2.      Pemenuhan Kebutuhan Hidup
Setelah pembukaan jalan raya dibeberapa daerah untuk menghubungkan antara perkebunan dengan pelabuhan dan kota. Orang-orang yang menjalankan kerja rodi juga membuat perkampungan di pingir jalan supaya tidak terlalu jauh pulang ke kampung yang letaknya jauh. Hal ini juga menjadi penyebab perpindahan penduduk dari daerah pegunungan turun mencari tempat pemukiman baru yang letaknya berdekatan dengan jalan raya. Dengan dibukanya jalan raya Poso-Tentena tahu 1991 menyebabkan Tentena yang merupakan daerah pedalam menjadi kota perniagaan yang ramai. Demikian juga dengan kota-kota lain.
Rakyat hanya digunakan sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan buruh dan dibayar dengan murah di ondernembing Belanda dan orang-orang Belanda berperan sebagai pemiliknya yang sebagainya telah terlibat dalam soal perdagangan barang-barang keperluan hidup sehari-hari seperti kain, alat rumah tangga, tukar menukar barang dengan pendatang-pendatang dari luar daerah. Bagi sebagian masyarakat yang masih hidup di pedalaman cara pemenuhan kebutuhan primernya masih seperti zaman kuno dan zaman baru.

3.      Partisipasi Masyarakat dalam Pergerakan
Dengan adanya pengaruh dari organisasi-organisasi politi yaitu SI, PNI, dan organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah, rakyat sudah sangat menderita akibat penjajahan Belanda. SI sebagai organisasi politik yang pertama kali datang di Sulawesi Tengah mendapatkan sambutan hangat dari rakyat. SI juga berhasil menghilangkan jurang pemisah antara raja dan rakyat karena mereka memiliki tujuan yang sama. Disamping itu, SI juga mendirikan sekolah-sekolah begitu juga dengan kedatangan organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah yang mendirikan sekolah-sekolah agar pemikiran masyarakat semakin terbuka pandangannya dan dengan ide-ide kebangsaan yang ditanamkan itu rakyat sadar perlunya perjuangan menuju perjuangan tercapainya kemerdekaan dan lepas dari kekuasaan Belanda.
Untuk pengorganisasian pemuda-pemuda, SI mendirikan Syarikat Islam Afdeling Pandu (SIAP) begitu pula dengan Muhammadiyah mendirikan organisasi kepemudaan Hisbul Watha (HW). Melalui wadah inilah dibentuk kader-kader pemuda yang kelak tampil dalam perjuangan kemerdekaan di masa-masa revolusi sesudah Proklamasi Kemerdekaan. Di Buol di samping SIAP, pemuda-pemuda juga dikoordinasikan dalam organisasi Pemuda Indonesia (PI) dan Pemuda Islam Indonesia (PII).
Dalam perlawanan fisik terhadap penjajahan Belanda, baik pada pemberontakan Salumpaga (1919), pemnerontakan Dolago (1936) maupun pada saat-saat perebutan kekuasaan dari pemerintahan Hindia Belanda menjelang masuknya Jepang, rakyat ditempat-tempat kejadian tersebut turut mengambil bagian (berpartisipasi)[10].

4.      Keadaan Masyarakat
Pada umumnya kehidupan rakyat dalam keadaan tertekan karena adanya pajak dan kerja rodi yang dijalankan atas perintah rajanya. Raja-raja ini hanya alat dari pemerintahan Belanda. Disamping itu, secara tradisi rakyat harus memberikan sumbangan pada raja-raja dari hasil pertanian, ternak dan sebagainya sesuai dengan sumber mata pencariannya. Rakyat harus memenuhi segala kewajibannya namun hak-haknya sangat dibatasi, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan. Belanda tidak mengadakan perbaikan dalam pendidikan maupun perekonomian. Sekolah-sekolah yang ada hanya untuk golongan bangsawan dan anak orang kaya sedangkan rakyat hanya bisa memasuki sekolah rakyat sapai kelas tiga hanya sekedar untuk dapat berhitung, membaca, menulis, dan dipersiapkan untuk jadi juru tulis di kantor pemerintahan atau tenaga rendah administrasi.
Dengan datangnya pengaruh dari partai politik dan organisasi pergerakan, rakayat mulai sadar akan harga dirinya dan timbul kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah air. Sedangkan dalam kehidupan ekonomi, bisa kita katakan tidak ada usaha dari pihak Belanda sedikitpun untuk meningkatkan perekonomian rakyat.
Karena mendapatkan tekanan yang keras dari penjajah, sebagian masyarakat bersifat apatis dan menerima saja nasibnya. Sampai pada abad XX disamping timbul perang-perang menentang penjajahan juga timbul perang diantara suku atau kelompok-kelompok, terutama di pedalaman. Di daerah yang dianggap belum aman oleh Belanda ditempatkan seorang penguasa militer, seorang kontrolir diikuti sejumlah tentara untuk menjaga keamanan.
Dengan diterapkannya sistem kerja rodi untuk pembuatan jalan raya yang menghubungkan tempat satu dengan tempat yang lainnya yang terletak di tepi pantai memaksa orang-orang yang tadinya hidup di pegunungan harus turun mendirikan dan membuat perkampungan baru didekat pantai dan tepi jalan yang baru dibuka. Di belakang perkampungan ini, rakyat mebuat kebun atau ladang padi namun waktu untuk mengelolah kebun dan ladang sangat kurang karena sebagian besar waktunya digunakan untuk menjalankan kerja rodi.
Terbukanya jaringan jalan raya antara satu kota dengan kota yang lainnya menyebabkan mobilitas di bidang ekonomi. Hubungan antara kampung yang satu dengan kampung yang lainnya semakin baik dan terjalin ikatan persaudaraan karena adanya perkawinan dan perjanjian untuk kerja sama dalam hal-hal tertentu. Pada awalnya masyarakat yang berpergian dari satu tempat ke tempat lain berjalan kaki dengan memikul barang-barangnya, maka berangsur-angsur berubah menggunakan kuda sebagai alat pengakutan dan berganti dengan gerobak yang ditarik oleh kerbau atau sapi dan pada akhirnya menggunakan oto. Perdagangan yang tadinya menggunakan sistem barter berubah menggunakan sistem uang.
Pada awalnya mata uang yang digunakan adalah mata uang VOC (doi lama) yang dibaut dari logam dengan beragam macam tingkatan nilai tukarnya. Kemudian digunakan uang logam bergambar ayam (doi manu) lalu berganti mata uang baru yang dicetak oleh pemerintah Hindia Belanda diawal abad XX dengan standar gulden. Doi lama dan doi manu tidak dipergunakan sebagai alat jual beli oleh masyarakat tetapi sebagai barang-barang berharga yang digunakan sebagai syarat harta bawaan seorang laki-laki untuk mengawini seorang wanita. Nilai mata uang gulden yang benar-benar digunakan sebagai jual beli.

5.      Pendidikan
Meskipun pengaruh agama islam telah lama masuk ke Sulawesi Tengah, tetapi cara penyampaian ilmu pengetahuan agama masih bersifat pendidikan tradisioanl secara turun temurun. Pendidikan diselengarakan dirumah sang guru, namun seiring perkembangan pendidikan berpindah ke masjid atau surau. Penyelengaraan sekolah moder baru ada sekitar tahun 1930 dengan berdirinya perguruan Islam Al Khairat yang didirikan oleh Hi. S. Indrus bin Salim Al Jufri dan berpusat di Palu. Setelah tahun1932, organisasi Islam Muhammdiyah mulai juga mendirikan sekolah-sekolah dan melaksanankan pendidikan modern melalui bantuan masyarakat setempat untuk membangun gedung-gedungnya.
PSII mendirikan Islamiyah School pada tahun 1931 di Toli-toli dan tahun 1933 di kota Donggala yang dipimpin oleh dua orang mubalig asal Minangkabau yang bernama Baharudin dan Djamaludin Datuk Tumengung. Pada tahun yang sama juga didirikan sekolah yang sama di Buol.
Tingkat pendidikan yang diselengarakan pada waktu itu setingkat dengan sekolah dasar enam tahun dan gaji guru-gurunya hanyalah sumbangan dari masyarakat.
Agama Kristen masuk ke Sulawesi Tengah hampir bersamaan dengan masuknya kekuasaan Hindia Belanda. Ada tiga bada yang menimpa, mengembangkan, dan menyelengarakan pendidikan Kristen di Sulawesi Tengah ini:
a.       Nederlands Zending Genootschap (NZG) yang berpusat di negeri Belanda membina, mengembangkan, dan menyelenggarakan pendidikan Kristen di lembah Palu dan sekitarnya. Pusatnya berada di Tentena.
b.      Leger Des Heils (L D H) atau lebih dikenal dengan bahasa Indonesia Bala Keselamatan (BK) berpusat di Inggris, membina, mengembangkan, dan menyelenggarakan pendidikan Kristen di lembah Palu dan sekitarnya dengan pusatnya berada di Kalawara.
c.       Indische Krek (I K) yang berpusat di Betawi (Jakarta), membina, mengembangkan, dan menyelenggarakan pendidikan Kristen di daerah Luwuk Banggai dengan pusatnya di Luwuk[11].
Badan-badan tersebut melakukan penyebaran agama Kristen di wilayah kerjanya melalui penrian sekolah-sekolah yang gurungya merupakan anggota Zending, pendeta-pendeta yang mendapatkan gaji dari organisasi yang membinanya. Sedangkan para utusan Zending dibawah pimpinan Indische Kerk para guru dan pendetanya mendapatkan gaji dari Gubernermen, mereka sebagai pegawai pemerintahan.
Sekolah pertama yang didirkan oleh Zending berada di Pandiri kec. Lage pada tahun 1904. Setelah itu baru menyusul tempat-tempat yang lainnya.  Mula-mula sekolah yang didirikan oleh Gubernur berlangsyung tiga tahun dan Zending empat tahun. Untuk membiayai sekolah-sekolah yang dibina oleh Zending, Alb. C. Kruijt pada tahun memerintahkan pembuatan perkebunan kopi yang pertama di kuku. Tahun1915 sekolah sambungan (Vervolgscholen) didirikan untuk pertama kali di Poso. Pemerintahan Hindia Belanda menyerahkan wewenang penyelenggaraan pendidikan di daerah teluk Tomini mulai dari utara sampai selatan kepada utusan Zwnding di Poso.
Sampai pada tahun 1916, guru-guru yang mengajar dan membantu Zending adalah orang Minahasa. Tahun 1930 pemerintah memberi kesempatan kepada Zending untuk membuka Hollands Indlandsche School (HIS), lama pendidikannya tujuh tahun diperuntukan bagi anak-anak raja dan orang-orang berada deng subsidi di Poso dengan kepala sekolahnya tuan Hoefman dan tahun 1936 tuan Hoefman digantikan oleh tuan H. Silalahi sampai datangnya Jepang. Untuk memperoleh tenaga guru di Poso, pada tahun 1913 Alb. C. Kruijt membuka sekolah pendidikan guru di Pendolo yang dikepalainya sendiri hingga tahun 1919. Mula-mula yang bisa menjadi murid merupakan anak-anak yang diasuh di rumah para utusan Zending namun lama kelamaan menerima pula murid dari luar. Sekolah pendidikan guru yang mula-mula di Poso dipindah ke Tentena oleh Jan Kruijt anak dari Alb. C. Kruijt.
Sekolah pendidikan guru yang tadinya berlangsung dua tahun menjadi tiga tahun dan kemudian empat tahun. Dan setelah dinyatakan terbuka bagi orang-orang dari luar Poso, maka berdatanglah murid-murid menuntut ilmu di Tentena.
a.       Mulai tahun 1925 tiap tahun Balai Keselamatan di Palu mengirim sejumlah anank laki-laki untuk dididik menjadi guru pada sekolah pendidikan guru di Tentena.
b.      Tahun 1928 murid-murid dari sekolah Zending Luwuk dikirim secara teratur melanjutkan ke Tentena.
c.       Pada tahun yang sama dikirim pula murid-murid dari Kolaka dan Kendari (Sulawesi Tenggara) ke sekolah pendidikan guru Tentena setiap tahun.
d.      Tahun 1939 secara teratur tiap tahun dikirim murid-murid dari Bolaang Mangondow (Sulawesi Utara) ke sekolah pendidikan guru Tentena[12].
Setelah banyak anak daerah yang menamatkan pendidikannya di sekolah pendidikan guru, maka mulai berangsur-angsur sekolah-sekolah di Sulawesi Tengah diajar oleh anak daerah sendiri. Sedangkan untuk daerah kab. Buol atau Toli-toli waktu itu belum terjangkau oleh para utusan Zending karena penduduknya hampir seluruhnya beragama Islam. Pada tanggal 17 Februari 1932, O. M. Kandow seorang guru asal Minahasa mandapatkan anugrah “Bintang Perak Besar” atas jasa-jasanya memajukan pendidikan di daerah Buol. Akan tetapi meskipun telah banyak sekolah-sekolah yang telah dibuka oleh Belanda, masyarakat masih merasa takut. Mereka beranggapan bahwa kalau tamat nanti akan dijadikan serdadu atau mereka akan dikristenkan.
Tahun 1917 di Kantaman (Palele), Bogo dan Litindu didirikan sekolah Partipulir. Pada tahun 1922 semua sekolah Partiputir itu dijadikan Bestuurs Volkschool (BVC) sekolah yang diperuntukkan bagi orang biasa sedangkan anak-anak bangsawan dikirim ke sekolah HIS Manado dan Gorontalo.
Dalam bidang pendidikan di Sulawesi Tengah, Belanda hanya berhasil mendirikan Vervolg School (SD kelas 5) tidak lebih dari 20 buah. Sedangkan HIS kebanyakan diusahakan oleh swasta sebanyak lima buah yakni HIS Tanam Putra di Palu, HIS Zending Kristen di Poso, HIS Muhammadiyah, dan HIS Netral[13].

6.      Kesenian
Kesenian yang berkembang di Sulawesi Tengah pada waktu itu adalah kesenian yang mendapatkan pengaruh dari Islam dan Krisaten. Kesenian Islam seperti Gambusyang diiringi tarian Dana-dana (Jepeng), Rambana yang dipertunjukkan di pesta-pesta tertentu yang berkembang beriringan dengan kesenian asli rakyat baik berupa seni rupa, seni tari, seni suara, maupun seni sastra. Sedangkan pengaruh yang dibawa oleh Belanda seperti Dansa diiringi musik menggunakan alat musik dari Barat dan hanya dinikmati dan dirayakan oleh orang-orang tertentu.
Pada tahun 1925, di Buol telah ada musik bambu di sekolah Palele yang diusahakan oleh seorang Guru bernama Z. Kawaatu yang membentuk group musik kemudian datang alat musik dari Eropa seperti Biola, Gitar, Banyo, Kulele, dan Jazz. Gambus telah dimodernkan dan sering dimainkan bersama dengan alat-alat dari Eropa.








BAB III
PENUTUP

3.1                   Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Tengah pada kurun waktu antara 1900-1942 telah sangat terorganisir. Dimana tiap-tiap propinsi dibagi dalam Afdeling yang dikepalai oleh seorang Residen yang berasal dari turunan Belanda totok atau Indo-Belanda. Tiap-tiap Afdeling terbagi lagi kedalam Onderafdeling yang masing-masing dikepalai oleh kontrolir atau Civiel Gezaghebber yang juga merupakan turunan Belanda totok atau Indo-Belanda. Di bawah ini baru dijumpai Landschap yang dikepalai oleh seorang raja. Raja-raja ini biasanya diakui oleh pemerintahan Belanda karena pro terhadap Belanda atau karena hasil pengangkatan Belanda yang dapat menjalankan pemerintahan sesuai keinginan Belanda.
2.      Proses terjadinya pergerakan nasional di Sulawesi Tengah di latar belakangi oleh rasa ketidakpuasan terhadap pemerintahan Belanda. Pada awalnya penentangan ini berupa kekerasan namun setelah perlawanan dalam bentuk kekerasan ini dapat ditekan oleh pihak Belanda maka jenis perlawanan berubah menggunakan wadah organisasi. Organisasi politik, sosial maupun agama ini pada awalnya merupakan pengaruh dari organisasi-organisasi yang berada di Jawa. Organisasi yang pertama tiba pengaruhnya pada masyarakat di Sulawesi Tengah adalah Syarekat Islam (SI), kemudian disusul oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dan  Muhammadiyah. Walaupun organisasi-organisasi pergerakan nasional ini memiliki latar yang berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama yaitu membawa ide kebangsaan yang ditanamkan pada masyarakat untuk memperjuangkan terbentuknya masyarakat Indonesia yang bebas merdeka dan lepas dari tangan penjajahan.
3.      Kehidupan masyarakat di Sulawesi Tengah dalam kurun waktu 1900-1942 hidup dalam tekanan. Masyrakat di Sulawesi Tengah dipaksa untuk membayar pajak dan melakukan kerja rodi baik dalam pembuatan jalan raya maupun penanaman ladang. Selain itu dengan kedatangan Belanda ke Sulawesi Tengah beriringan dengan penyebaran agama Kristen. Untuk mendapatkan tenaga kerja yng terdidik dan murah, pemerintahan juga memulai membuat sekolah-sekolah bagi masyarakat. Dimulai dari sekolah kelas dua di pedesaan dan kelas satu di perkotaan. Namun seiringnya dengan berjalanya waktu dan datangnya pengaruh dari organisasi pergerakan nasional maka semakin banyak sekolah-sekolah yang didirikan guna untuk memajukan pendidikan dan membuka pemikiran rakyat Indonesia. Tradisi dan kesenian yang ada di Sulawesi Tengah sedikit banyak juag terpengaruh oleh keadaan yang sedang berkembang terutama tradisi Islam dan Kristen. Pengaruh kebudayaan Eropa juga mulai masuk namun untuk hal ini hanya dapat diadakan dan dinikmati oleh kalangan-kalangan tertentu.




















Daftar Pustaka


1.      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 1996/1997. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.
2.      A.K.Pringgodigdo SH. 1994. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: PT.Dian Rakyat.
3.      Kartodirdjo, Sartono, Marwatie Djoened, dan Nugroho Notosusanto.1997. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
4.      M.C. Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.




[1] A.K.Pringgodigdo SH.1994.Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia.Jakarta:PT.Dian Rakyat.hlm VI.
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 1996/1997. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.hlm 101.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.hlm 103.
[6] Ibid.
[7] Ibid.hlm 104.
[8] Ibid.hlm 106.
[9] Ibid.,hlm 118.
[10] Ibid.,hlm 122.
[11] Ibid.,hlm 126.
[12] Ibid.,hlm 128.
[13] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar