SEJARAH
NASIONAL INDONESIA V
“PERGERAKAN
NASIOANAL DI SULAWESI TENGAH (1900-1942)”
Disusun Oleh:
NOFITA RUSDIANA DEWI
094284227
C
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
S1
PENDIDIKAN SEJARAH
2011
KATA PENGANTAR
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Pemurah,
makalah Sejarah Nasional Indonesia V dengan judul Pergerakan Nasional di
Sulawesi Tengah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Meskipun proses
penulisan ini mengalami beberapa kendala namun, berkat kesungguhan dan kerja
keras serta bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara langsung
maupun secara tidak langsung, kendala-kendala itu dapat diatasi.
Makalah ini di susun dengan tujuan untuk
memenuhi tugas Sejarah Nasional Indonesia V yang telah diberikan oleh Ibu/Bapak
Dosen. Dalam makalah ini disajikan
penjelasan tentang keadaan pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Tengah pada
tahun 1900-1942, proses terjadinya pergerakan nasional dan kondisi masyarakat
Sulawesi Tengah selam kurun waktu 1900-1942.
Saya telah berusaha sebaik mungkin untuk
mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang bisa membantu dalam penulisan
makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saya sebagai penulis mengakui bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Sehubungan dengan hal tersebut, tegur
sapa, saran, dan kritik yang bersifat membangun agar buku ini menjadi lebih
baik sangat diharapkan dan diterima dengan tangan terbuka. Mudah-mudahan
makalah sederhana ini bermanfaat bagi para peminat yang ingin dan lebih memehami
tentang Pergerakan Nasional di Sulawesi Tengah 1900-1942.
Punulis
II
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul......................................................................................................I
Kata
Pengantar...................................................................................................II
Daftar
Isi.............................................................................................................III
BAB
I Pendahuluan
...........................................................................................1
1.1 Latar
Belakang
...........................................................................................1
1.2 Batasan
Masalah .......................................................................................2
1.3 Rumusan
Masalah
....................................................................................2
1.4 Tujuan
.........................................................................................................2
1.5 Manfaat
......................................................................................................3
BAB II Pembahasan
..........................................................................................4
2.1
Keadaan Pemerintahan Belanda di Sulawesi Tengah (1900-1942) .....4
2.2
Proses Pergerakan Nasioal di Sulawesi Tengah
...................................7
2.3
Kehidupan Masyarakat di Sulawesi Tengah (1900-1942)
...................9
BAB III Penutup
..............................................................................................17
3.1
Kesimpulan ..........................................................................................17
Daftar Pustaka
.................................................................................................19
III
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Nasionalisme
adalah jantung kehidupan suatu negara dan merupakan modal utama tegaknya suatu
bangsa. Akan tetapi, apakah nasionalisme itu?
Nasionalisme
pada hakikatnya adalah manifestasi dari kesadaran nasional dalam pengabdian
kepada bangsa dan negara. Pengabdian ini tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Jika rasa kebangaan bernegara dalam suatu negara telah luntur maka itu adalah
sinyal bahwa semangat nasional telah menurun dan berarti keruntuhan negara
sudah dekat. Meskipun demikian, kesadaran nasional tidak begitu saja muncul
dalam setiap masyarakat di muka bumi ini.
Kesadaran
nasional di Indonesia muncul dan sangat terlihat jelas ketika melawan
kolonialisme. Tahun 1900-1945 (sebelum kemerdekaan) dalam sejarah Indonesia
dikatakan bahwa pada masa ini merupakan masa pergerakan rakyat Indonesia atau
pergerakan Indonesia. Pergerakan Indonesia meliputi semua macam aksi yang
delakukan dengan organisasi secara modern ke arah perbaikan hidup untuk bangsa
Indonesia, karena tidak puasnya dengan keadaan masyarakat yang ada[1].
Pergerakan
Nasioanal ini muncul hampir diseluruh wilayah Indonesia dan salah satunya yang
akan kita bahas adalah pergerakan nasionalisme di Sulawesi Tengah. Nasionalisme
ini pada umumnya timbul karena adanya rasa ketidak puasan terhadap pemerintahan
Belanda dan keinginan yang kuat untuk membentuk suatu pemerintahan sendiri. Timbulnya
pergerakan Nasioanal yang bersifat organisasi di Sulawesi Tengah ini tidak
luput dari pengaruh organisasi pergerakan yang telah lebih dahulu muncul di
Jawa. Karena merasa memiliki kepentingan dan tujuan yang sama maka
oraganisasi-organisasi yang berasal dari Jawa mendapatkan sambutan dan diterima
oleh masyarakat setempat. Persatuan inilah yang pada akhirnya menjadi alat
pemersatu bangsa dan muncul dalam diri setiap masyarakat dari berbagai daerah
di Indonesia dan hal inilah yang pada akhirnya mengantarkan Indonesia menuju ke
kemerdekaan.
1.2 Batasan
Masalah
Penulisan
makalah ini hanya dibatasi pada pergerakan nasioanl di Sulawesi Tengah pada
kurun waktu 1900-1942.
1.3 Rumusan
Masalah
Rumusan masalah dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
keadaan pemerintahan Hindia-Belanda di Sulawesi Tengah?
2. Bagaimana
proses terjadinya pergerakan nasioanal di Sulawesi Tengah?
3. Bagaimana
kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah selama kurun waktu 1900-1942?
1.4 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui keadaan pemerintahan Hindia-Belanda di Sulawesi Tengah yang pada
akhirnya menimbulkan suatu pergerakan.
2. Untuk
mengetahui terjadinya proses pergerakan nasioanal di Sulawesi Tengah.
3. Untuk
mengetahui kehidupan masyarakat di Sulawesi Tengah selama kurun waktu
1900-1942.
1.5 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan
pemahaman yang lebih mengenai peristiwa pergerakan nasional yang terjadi di
Sulawesi Tengah.
2. Sebagai
salah satu kajian dalam matakuliah Sejarah Nasioanal Indonesia V.
3. Sebagai
bahan diskusi bagi mahasiswa agar dapat lebih memahami peristiwa pergerakan
nasional di Sulawesi Tengah dan sumbangsihnya bagi Indonesia.
4. Manambah
pemahaman dan cakrawala berfikir bagi penulis.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada
awalnya terdapat beberapa kerajaan yang mengadakan perlawanan senjata untuk
mempertahankan kemerdekaannya dari pihak
penjajah. Namun karena kekalahan dalam teknik persenjataan dan adanya
penghianatan dari bangsa sendiri yang selalu membantu pihak Belanda, akhirnya
satu persatu kerajaan-kerajaan yang berada di Sulawesi Tengah dapat ditaklukkan
oleh Belanda, terutama daerah-daerah pesisir panatai. Akibatnya sebagian
raja-raja yang melawan tadi diasingkan Belanda atau tetap dijadikan raja tapi
sudah dukuasai dengan penandatanganan kontrak pengakuan pada kekuasaan Belanda[2].
Selain
itu, pihak Belanda juga mendirikan kerajaan-kerajaan baru yang merupakan
pecahan dari kerajaan besar yang tadinya dengan keras melawan pihak Belanda.
Seperti pembentukan kerajaan Una-una dari kerajaan Tojo/Una-una, kerajaan Dolo
yang merupakan pecahan dari kerajaan Sigi/Dolo, kerajaan Bungku yang merupakan
pecahan dari kerajaan Mori, dan kerajaan Banggai yang dibagi menjadi kerajaan
Banggai Lautan dan Banggai Daratan. Pada umumnya yang dijadikan penguasa pada
kerajaan-kerajaan baru ini merupakan keluarga dekat dari penguasa sebelumnya
yang mengakibatkan wilayahnya terbagi, rakyat terbagi, dan hubungan keluargapun
retak.
Hal
ini merupakan salah satu siasat dari pihak Belanada untuk mencegah timbulnya
suatu kekuatan besar yang akan memberontak kepadanya. Apabila terjadi
pergantian penguasa atau raja disuatu kerajaan maka harus melalui persetujuan
dan dipilih pihak Belanda. Yang dipilih adalah orang yang dapat dipengaruhi dan
taat pada Belanda. Kekuasaan raja-raja ini kekuasaanya dibatasi oleh peraturan
yang dibuat oleh Belanda.
2.1 Pemerintahan Hindia-Belanda di
Sulawesi Tengah
Setelah dapat menguasai pulau Jawa,
Belanda mulai meluaskan kekuasaannya antaralain ke Sulawesi. Sebelum menanamkan
kekuasaannya di Sulawesi Tengah, pemerintahan Hindia Belanda telah lama
berkuasa di Sulawesi Selatan (Makassar) dan Sulawesi Utara[3].
Di tahun 1905 Pulau Sulawesi dibagi
menjadi dua Propinsi, yaitu: Sulawesi Selatan dengan ibu kotanya di Makassar
dan Sulawesi Utara dengan batas pegunungan Tokolekayu disebelah selatan danau
Poso. Gubernur dan Residen secara organisator berada dibawah Gubernur Jenderal
yang berkedudukan di Batavia. Susunan aparaturnya sebagai berikut:
Tiap-tiap
Propinsi terbagi dalam afdeling dikepalai
seorang Asisten Residen dari turunan Belanda totok atau Indo-Belanda. Tiap-tiap
afdeling terbagi lagi kedalam onderafdeling
masing-masing dikepalai seorang Kontrolir atau Civiel Gezaghebber yang juga tururnan Belanda totok atau
Indo-Belanda. Dibawah itu baru dijumpai landschap yang dikepalai seorang raja.
Raja-raja yang diakui oleh pemerintahan Belanda karena pro Belanda atau karena
hasil pengangkatan Belanda dan yang menjalankan pemerintahan sesuai kehendak
dan kemauan Belanda[4].
Pada masa ini 1903-1918, daerah Sulawesi
Tengah sebagian masuk wilayah Gubernur Makasar dan masuk bagian afdeling Oost
Celebes sedangkan yang lainnya masuk dalam keresidenan Manado adalah afdeling
Donggala yang meliputi onderafdeling-onderafdeling Toli-toli, Palu, Poso, dan
Parigi. Onderafdeling Kolonadale dan Onderafdeling Banggai masuk dalam wilayah
afdeling Oost Celebes dengan ibu kotanya di Bau-bau.
Sedangkan pada tahun 1919, wilayah
Sulawesi Tengah dibagi lagi menjadi dua afdeling, yaitu:
1. Afdeling
Donggala dengan ibu kotanya Donggala dan terdiri dari:
a. Onderafdeling
Donggala ibu kota Donggala.
b. Onderafdeling
Toli-toli ibu kota Toli-toli.
c. Onderafdeling
Palu ibu kota Palu.
d. Onderafdeling
Buol ibu kota Palu.
2. Afdeling
Poso dengan ibu kotanya Poso dan terdiri dari:
a. Onderafdeling
Poso ibu kota Poso.
b. Onderafdeling
Parigi ibu kota Parigi.
c. Onderafdeling
Kolonadale ibu kota Kolonadale.
d. Onderafdeling
Banggai ibu kota Banggai.[5]
Tahun 1906, Belanda masuk ke Banggai dan
tahun 1908 raja Abd. Rahmat mendatangani korte
verklaring setelah Banggai lepas dari Ternate dan memperoleh statu baru Zelfbesturende landschap dan digantikan
oleh raja Awaludin Haji (1925-1940). Belanda membentuk Gouverment Celebes en
Onderhorigheden dimana Banggai masuk dalam Afdeling Oost Celebes dengan status
Onderafdeling 1908-1924. Dan sejak tahun 1922 Landschap Banggai pecah menjadi
dua Onderafderling yaitu Banggai Darat dengan ibu kotanya di Luwuk dan Banggai
Laut dengan ibu kotanya di kota Banggai. Banggai Laut ini dimasukkan kedalam
Afdeling Poso dengan nama Onderafdeling Banggai dan masuk kedalam wilayah
keresidenan Manado.
Di
Ofderafdeling Donggala : Kerajaan
Banawa dan Tawaeli.
Di
Onderafdeling Palu : Kerajaan
Palu, Sigi Biromaru Dolo dan Kulawi.
Di
Onderafdeling Poso : Kerajaan
Tojo Una-una, Poso dan Lore.
Di
Onderafdeling Parigi : Kerajaan
Parigi dan Moutog.
Di
Onderafdeling Kolonadale :
Kerajaan-kerajaan Mori dan Bungku.
Di Onderafdeling Banggai :Kerajaa-kerajaan Banggai Darat dan
Banggai Laut.
Di Onderafdeling Toli-toli : Kerajaan Toli-toli.
Di Onderafdeling Buol : Kerajaan Buol[6].
Pada tahun 1919-1938, Onderafdeling Buol
masuk ke dalam wilayah keresidenan Gorontalo dan dari tahun 1938-1942 di
Sulawesi Tengah terdapat kerajaan-kerajaan sebagai berikut:
Di
Onderafdeling Donggala : Kerajaan
Banawa dan Tawaeli
Di
Onderafdeling Palu : Kerajaan
Palu, Sigi Biromaru, Dolo dan Kulawi.
Di
Onderafdeling Poso : Kerajaan
Tojo, Poso, Lore dan Una-una.
Di
Onderafdeling Parigi : Kerajaan
Parigi dan Moutong.
Di
Onderafdeling Luwuk : Kerajaan
Banggai Laut dan Banggai Darat.
Di
Onderafdeling Toli-toli : Kerajaan
Toli-toli[7].
Pada tanggal 28 Agustus 1903 terbentuk
Midden Celebes sehingga Donggala menjadi tempat kedudukan Asisten Residen. Yang
mula-mula menjadi Asisten Residen adalah M.J.H. Engelenbeg, pada tahun 1932 digantikan
oleh Hiersman. Selain kedua orang ini kurang diketahui siapa lagi penggatinya.
Sedangkan Asisten Residen yang pernah memerintah di Onderafdeling Poso adalah:
de Rook, Platt. J.J. Mendelaar, de Haze, Tevelde, dan Rijsdijk.
2.2
Proses Pergerakan Nasional di Sulawesi
Tengah
Awal pergerakan Nasional yang terjadi di
Sulawesi Tengah berbentuk perlawanan pada kekuasaan pemerintahan Belanda yang
akan menjajah daerah ini pada awal abad XX. Selain berbentuk perlawanan
senjata, perlawan ini juga ada yang berbentuk dalam sikap menolak atau
membatalkan perjanjian. Sebab-sebab munculnya perlawanan terhadap pihak Belanda
antara lain sebagai berikut:
a. Sebelum
kedatangan Belanda di Sulawesi Tengah, raja-raja yang memerintah memiliki
kekuasaan dan hukum berdasarkan adat yang telah berlaku secara turun-temurun.
Namun setelah kedatangan pihak Belanda mereka merasa kekuasaannya dikurangi
atau bahkan ada yang hilang.
b. Belanda
datang dengan memaksakan kekuasaanya, terkadang pemaksaan ini menggunakan
kekerasan dengan tentaranya yang dikenal dalam masyarakat sebagai tentara
Kompania. Mereka menumpas dengan kejam kelompok-kelompok suku bersama rajanya
yang menolak penjajahan.
c. Rakyat
tidak mau menerima kerja paksa atau rodi yang dibebankan kepada mereka oleh
pihak Belanda pada waktu-waktu yang telah ditentukan padahal mereka telah
terbiasa hidup bebas.
d. Menolak
pembayaran pajak yang telah ditentukan oleh pemerintahan Hindia Belanda.
Besarnya pajak ini kuga ditentukan oleh pihak pemerintahan (penang ung pajak).
e. Bagi
kerajaan-kerajaan yang telah memeluk agama Islam dengan taat menganggap bahwa
orang Belanda itu kafir yang suka bertindak sewenang-wenang. Mereka menganggap
bahwa orang Islam tidak sepantasnya tunduk pada orang kafir.
Setelah pergerakan-pergerakan ini dapat
dihentikan dengan kekerasan senjata maka muncul pergerakan yang memakai wadah
organisasi sebagai alat. Organisasi pergerakan yang pertama masuk pengaruhnya
adalah Sarikat Islam (SI). Daerah yang pertama kali menerima pengaruh dari
Sarikat Islam adalah Kerajaan Buol Toli-toli (1916), kemudian kerajaan
Donggala/Parigi (1917), daerah pesisir Mori (1918/1919), dan daerah Luwuk
Banggai (1926) yang dibawa oleh A. Muis dan Tjokroaminoto ketika berkunjung ke
Sulawesi Utara Tengah. Setelah itu pengaruh dari Partai Nasional Indonesia
(PNI) di daerah Donggala dan sekitarnya (1927) dan Buol (1928). Disusul
pergerakan sosial agama Muhammadiyah di Donggala, Wani dan Parigi pada tahun
1932/1933 yang dibawa oleh Buya Hamka dan Umar Efendi. Pengaruh ini meluas ke
daerah Parigaman dan Bunta yang dibawa oleh Kardiat, Abu Hasan, dan Umar
Efendi. Daerah Buol menerima Muhammadiyah melalui Gorontalo yang dibawa oleh
Tjami Lamato. Meskipun dengan dasar yang berbeda-beda (nasionalisme dan agama)
namun semua organisasi-organisasi tersebut membawa ide kebangsaan yang
ditanamkan pada masyarakat Sulawesi Tengah untuk memperjuangkan masyarakat
Indonesia yang bebas merdeka lepas dari tangan penjajahan.
Di Buol penyebaran SI melalui rajanya
dan pengeran Mangkona sebagai pedagang waktu beliau di Jawa telah masuk sebagai
anggota Syarikat Dagang Islam (SDI) yang pada akhirnya berubah menjadi SI dan
kedua tokoh ini kembali ke Buol untuk membentuk organisasi SI dengan pengurus
pertamanya: Presiden dijabat oleh Raja Binol; Wakil Presiden oleh Pangeran Mangkona;
Sekretaris oleh T. Mangkona.
Tak lama kemudian Toli-toli juga
membentuk organisasi SI dengan pengurusnya: Presiden oleh Tegelan Hi. Moh. Ali
(Raja muda); Wakil Presiden oleh Mogi Hi. Ali (Putera Raja Toli-toli);
Sekretaris oleh Ambon Pakka; Anggota: Muh. Sirrajudin (Syahbandar) dan Busuna
(jogugu).
Sedangkan di Palu SI baru berdiri pada
tahun 1977 yang dibawa oleh H.O.S Tjokroaminoto dengan susunan pengurus
pertamanya: Presiden oleh Yoto Daeng Pawindu; Wakil Presiden oleh Abd. Rahim
Pakmundi; Sekretaris oleh Daeng Maroa D.S; Komisaris oleh Palimuri dan
kawan-kawan.
Dalam waktu yang relatif singkat SI
mendapatkan sambutan dari sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah. Namun
pemerintahan Belanda beserta aparatnya dan raja-raja tidak menyetujui
perkembangan partai ini karena dianggap memberikan pengaruh yang akan menganggu
kekuasaanya. Raja Palu Paramsi beserta aparatnya membentuk Persatuan Raja Palu
(PRP) untuk melawan SI namu SI tetap berkembang meluas ke daerah-derah
kerajaan-kerajaan Dolo, Keleke, Biromaru, Tawaeli, Donggal, Wani, Tinombo dan
pada akhirnya di Palu SI memperoleh dukungan yang besar dari raja Dolo Datu
Pamusu.
Pemerintahan Belanda merasa SI dapat
menancam kelangsungan penjajahan maka tokoh-tokoh SI banyak yang diasingkan
dengan tuduhan penghasut rakyat untuk melawan pemerintahan yang sah melalui
partai agama. Datu Pamusu diasingkan ke Ternate, Yoto Daeng Pawindu dan Abd.
Rahim Pakamundi diasingkan ke Sukamiskin, Bandung selama tiga tahun. Meskipun
demikian SI tetap berlanjut dan mendapatkan sambutan hangat dari rakyat.
Pimpinanya dilanjutkan oleh Daeng Maroa bersama kawan-kawan samapi tahun 1929
SI meningkatkan perjuangannya dan menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia
(PSII).
Dengan adanya kunjungan A. Muis ke
Sulawesi Tengah (Buol Toli-toli) pada tahun 1918 makin banyak rakyat
memasukinya. Dalam pidato A. Muis di muka rapat umum cukup keras terutama
mengenai belasting dan kerja paksa (heredienst)[8].
Setelah itu dalam kurun waktu beberapa bulan timbul pemberontakan Salumpaga
yang membuat kaget parlemen di negeri Belanda. Akibatnya di Toli-toli
ditempatkan pemerintahan militer dan kaum pergerakan dikekang. Di Parigi timbul
pemberontakan Dolago yang dipimpin Abd. Wahid Toana dan Mrjun Habie. Sedangkan
di Buol kaum pergerakan bersifat kooperatif sehingga Belanda juga bersifat
lunak kepada mereka.
Di beberapa tempat timbul
perlawanan-perlawanan (perang) terhadap pihak Belanda yaitu: Perlawanan di
daerah Poso, Perang Donggala, Perang Sigi, dan Perang Kulawi.
2.3
Kehidupan Masyarakat Sulawesi Tengah 1900-1042
1. Pengaruh
Kekuatan Eropa
Setalah
berkuasanya pemerintahan Hindi Belanda di Sulawesi Tengah, mereka mulai
menyusun rencana kerja untuk mencapai tujuannya sesuai dengan progaram. Belanda
menjajah Indonesia untuk mengambil kekayaan Indonesia yang berupa hasil
pertanian, hutan pertambangan dan laian-lain. Untuk memudahkan hal tersebut,
mula-mula pemerintahan Hindia Belanda mamaksakan pembuatan jalan raya (kerja
rodi) untuk mempermudah pengangkutan hasil hutan ke daerah pantai atau
pelabuhan. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah dan terdidik, pemerintahan
Hindia Belanda berusaha membangun Sekolah yang disebut sekolah kelas dua
(sekolah rakyat tiga tahun) sedangkan di kota mereka membangun sekolah kelas
satu (Vervolgschlolen) yang merupakan sekolah sambungan bagi anak-anak yang telah
menamatkan pada sekolah kelas dua yang ada di desa-desa. Selain itu ada para
utusan Zending yang tugas utamanya adalah menyebarkan agama Kristen.
Pada
tahun 1907 pemrintahan setempat (Sulawesi Tengah) memberikan subsidi setiap
tahunnya kepada sekolah-sekolah yang diasuh oleh Zending, f 5.000 (lima ribu gulden)[9].
Namun pada perkembanganya subsidi itu tidak mencukupi sehingga pada tahun 1924
pemerintahan pusat memberikan subsidi yang besar sesuai dengan kebutuhan
penyelenggaraan sekolah-sekolah Zending.
Di
Sulawesi Tengah dilakukan penanaman paksa tanaman-tanaman kopi, kelapa, dan
pohon palma dan terdapat beberapa Onderneming milik orang-orang Belanda yang
pada saat kemerdekaan jatuh ke tangan orang-orang Cina yang kaya. Untuk
pengairan sawah, pemerintahan Hindia Belanda mengusahakan pembangunan bendungan
air, misalnya: bendungan air di Olobuju dengan aliran sungai di kec. Biromaru
kab. Donggala. Sejak tahun 1897 di Buol berdiri Mijnbouw Maatschappi
(perusahaan tambang) di Paleleh. Pekerja-pekerja kasarnya adalah rakyat Buol
namun tambang ini mati pada tahun 1929.
Pengaruh
Eropa lainnya berbentuk disiplin yang keras dalam segala bidang pemerintahan
dan kehidupan. Dalam bidang hukum dan penegakkan norma-norma disusun dan
dikenalkanya sistem pengadilan dan penjara
pada waktu itu. Belanda juga memupuk kehidupan feodalisme pada kehidupan
raja-raja agar terjadi jurang antara rakyat dengan raja-rajanya.
2. Pemenuhan
Kebutuhan Hidup
Setelah
pembukaan jalan raya dibeberapa daerah untuk menghubungkan antara perkebunan
dengan pelabuhan dan kota. Orang-orang yang menjalankan kerja rodi juga membuat
perkampungan di pingir jalan supaya tidak terlalu jauh pulang ke kampung yang
letaknya jauh. Hal ini juga menjadi penyebab perpindahan penduduk dari daerah
pegunungan turun mencari tempat pemukiman baru yang letaknya berdekatan dengan
jalan raya. Dengan dibukanya jalan raya Poso-Tentena tahu 1991 menyebabkan
Tentena yang merupakan daerah pedalam menjadi kota perniagaan yang ramai.
Demikian juga dengan kota-kota lain.
Rakyat
hanya digunakan sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan buruh dan dibayar dengan
murah di ondernembing Belanda dan orang-orang Belanda berperan sebagai
pemiliknya yang sebagainya telah terlibat dalam soal perdagangan barang-barang
keperluan hidup sehari-hari seperti kain, alat rumah tangga, tukar menukar
barang dengan pendatang-pendatang dari luar daerah. Bagi sebagian masyarakat
yang masih hidup di pedalaman cara pemenuhan kebutuhan primernya masih seperti
zaman kuno dan zaman baru.
3. Partisipasi
Masyarakat dalam Pergerakan
Dengan
adanya pengaruh dari organisasi-organisasi politi yaitu SI, PNI, dan organisasi
sosial keagamaan Muhammadiyah, rakyat sudah sangat menderita akibat penjajahan
Belanda. SI sebagai organisasi politik yang pertama kali datang di Sulawesi
Tengah mendapatkan sambutan hangat dari rakyat. SI juga berhasil menghilangkan
jurang pemisah antara raja dan rakyat karena mereka memiliki tujuan yang sama.
Disamping itu, SI juga mendirikan sekolah-sekolah begitu juga dengan kedatangan
organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah yang mendirikan sekolah-sekolah agar
pemikiran masyarakat semakin terbuka pandangannya dan dengan ide-ide kebangsaan
yang ditanamkan itu rakyat sadar perlunya perjuangan menuju perjuangan
tercapainya kemerdekaan dan lepas dari kekuasaan Belanda.
Untuk
pengorganisasian pemuda-pemuda, SI mendirikan Syarikat Islam Afdeling Pandu
(SIAP) begitu pula dengan Muhammadiyah mendirikan organisasi kepemudaan Hisbul
Watha (HW). Melalui wadah inilah dibentuk kader-kader pemuda yang kelak tampil
dalam perjuangan kemerdekaan di masa-masa revolusi sesudah Proklamasi
Kemerdekaan. Di Buol di samping SIAP, pemuda-pemuda juga dikoordinasikan dalam
organisasi Pemuda Indonesia (PI) dan Pemuda Islam Indonesia (PII).
Dalam
perlawanan fisik terhadap penjajahan Belanda, baik pada pemberontakan Salumpaga
(1919), pemnerontakan Dolago (1936) maupun pada saat-saat perebutan kekuasaan
dari pemerintahan Hindia Belanda menjelang masuknya Jepang, rakyat
ditempat-tempat kejadian tersebut turut mengambil bagian (berpartisipasi)[10].
4. Keadaan
Masyarakat
Pada
umumnya kehidupan rakyat dalam keadaan tertekan karena adanya pajak dan kerja
rodi yang dijalankan atas perintah rajanya. Raja-raja ini hanya alat dari
pemerintahan Belanda. Disamping itu, secara tradisi rakyat harus memberikan
sumbangan pada raja-raja dari hasil pertanian, ternak dan sebagainya sesuai
dengan sumber mata pencariannya. Rakyat harus memenuhi segala kewajibannya
namun hak-haknya sangat dibatasi, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan.
Belanda tidak mengadakan perbaikan dalam pendidikan maupun perekonomian.
Sekolah-sekolah yang ada hanya untuk golongan bangsawan dan anak orang kaya
sedangkan rakyat hanya bisa memasuki sekolah rakyat sapai kelas tiga hanya
sekedar untuk dapat berhitung, membaca, menulis, dan dipersiapkan untuk jadi
juru tulis di kantor pemerintahan atau tenaga rendah administrasi.
Dengan
datangnya pengaruh dari partai politik dan organisasi pergerakan, rakayat mulai
sadar akan harga dirinya dan timbul kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan
bangsa dan tanah air. Sedangkan dalam kehidupan ekonomi, bisa kita katakan
tidak ada usaha dari pihak Belanda sedikitpun untuk meningkatkan perekonomian
rakyat.
Karena
mendapatkan tekanan yang keras dari penjajah, sebagian masyarakat bersifat
apatis dan menerima saja nasibnya. Sampai pada abad XX disamping timbul
perang-perang menentang penjajahan juga timbul perang diantara suku atau
kelompok-kelompok, terutama di pedalaman. Di daerah yang dianggap belum aman
oleh Belanda ditempatkan seorang penguasa militer, seorang kontrolir diikuti
sejumlah tentara untuk menjaga keamanan.
Dengan
diterapkannya sistem kerja rodi untuk pembuatan jalan raya yang menghubungkan
tempat satu dengan tempat yang lainnya yang terletak di tepi pantai memaksa
orang-orang yang tadinya hidup di pegunungan harus turun mendirikan dan membuat
perkampungan baru didekat pantai dan tepi jalan yang baru dibuka. Di belakang
perkampungan ini, rakyat mebuat kebun atau ladang padi namun waktu untuk
mengelolah kebun dan ladang sangat kurang karena sebagian besar waktunya
digunakan untuk menjalankan kerja rodi.
Terbukanya
jaringan jalan raya antara satu kota dengan kota yang lainnya menyebabkan
mobilitas di bidang ekonomi. Hubungan antara kampung yang satu dengan kampung
yang lainnya semakin baik dan terjalin ikatan persaudaraan karena adanya
perkawinan dan perjanjian untuk kerja sama dalam hal-hal tertentu. Pada awalnya
masyarakat yang berpergian dari satu tempat ke tempat lain berjalan kaki dengan
memikul barang-barangnya, maka berangsur-angsur berubah menggunakan kuda
sebagai alat pengakutan dan berganti dengan gerobak yang ditarik oleh kerbau
atau sapi dan pada akhirnya menggunakan oto. Perdagangan yang tadinya menggunakan
sistem barter berubah menggunakan sistem uang.
Pada
awalnya mata uang yang digunakan adalah mata uang VOC (doi lama) yang dibaut
dari logam dengan beragam macam tingkatan nilai tukarnya. Kemudian digunakan
uang logam bergambar ayam (doi manu) lalu berganti mata uang baru yang dicetak
oleh pemerintah Hindia Belanda diawal abad XX dengan standar gulden. Doi lama
dan doi manu tidak dipergunakan sebagai alat jual beli oleh masyarakat tetapi
sebagai barang-barang berharga yang digunakan sebagai syarat harta bawaan
seorang laki-laki untuk mengawini seorang wanita. Nilai mata uang gulden yang
benar-benar digunakan sebagai jual beli.
5. Pendidikan
Meskipun
pengaruh agama islam telah lama masuk ke Sulawesi Tengah, tetapi cara
penyampaian ilmu pengetahuan agama masih bersifat pendidikan tradisioanl secara
turun temurun. Pendidikan diselengarakan dirumah sang guru, namun seiring
perkembangan pendidikan berpindah ke masjid atau surau. Penyelengaraan sekolah
moder baru ada sekitar tahun 1930 dengan berdirinya perguruan Islam Al Khairat
yang didirikan oleh Hi. S. Indrus bin Salim Al Jufri dan berpusat di Palu.
Setelah tahun1932, organisasi Islam Muhammdiyah mulai juga mendirikan
sekolah-sekolah dan melaksanankan pendidikan modern melalui bantuan masyarakat
setempat untuk membangun gedung-gedungnya.
PSII
mendirikan Islamiyah School pada tahun 1931 di Toli-toli dan tahun 1933 di kota
Donggala yang dipimpin oleh dua orang mubalig asal Minangkabau yang bernama
Baharudin dan Djamaludin Datuk Tumengung. Pada tahun yang sama juga didirikan
sekolah yang sama di Buol.
Tingkat
pendidikan yang diselengarakan pada waktu itu setingkat dengan sekolah dasar
enam tahun dan gaji guru-gurunya hanyalah sumbangan dari masyarakat.
Agama
Kristen masuk ke Sulawesi Tengah hampir bersamaan dengan masuknya kekuasaan
Hindia Belanda. Ada tiga bada yang menimpa, mengembangkan, dan menyelengarakan
pendidikan Kristen di Sulawesi Tengah ini:
a. Nederlands
Zending Genootschap (NZG) yang berpusat di negeri Belanda membina,
mengembangkan, dan menyelenggarakan pendidikan Kristen di lembah Palu dan
sekitarnya. Pusatnya berada di Tentena.
b. Leger
Des Heils (L D H) atau lebih dikenal dengan bahasa Indonesia Bala Keselamatan
(BK) berpusat di Inggris, membina, mengembangkan, dan menyelenggarakan
pendidikan Kristen di lembah Palu dan sekitarnya dengan pusatnya berada di
Kalawara.
c. Indische
Krek (I K) yang berpusat di Betawi (Jakarta), membina, mengembangkan, dan
menyelenggarakan pendidikan Kristen di daerah Luwuk Banggai dengan pusatnya di
Luwuk[11].
Badan-badan tersebut melakukan
penyebaran agama Kristen di wilayah kerjanya melalui penrian sekolah-sekolah
yang gurungya merupakan anggota Zending, pendeta-pendeta yang mendapatkan gaji
dari organisasi yang membinanya. Sedangkan para utusan Zending dibawah pimpinan
Indische Kerk para guru dan pendetanya mendapatkan gaji dari Gubernermen,
mereka sebagai pegawai pemerintahan.
Sekolah pertama yang didirkan oleh
Zending berada di Pandiri kec. Lage pada tahun 1904. Setelah itu baru menyusul
tempat-tempat yang lainnya. Mula-mula
sekolah yang didirikan oleh Gubernur berlangsyung tiga tahun dan Zending empat
tahun. Untuk membiayai sekolah-sekolah yang dibina oleh Zending, Alb. C. Kruijt
pada tahun memerintahkan pembuatan perkebunan kopi yang pertama di kuku.
Tahun1915 sekolah sambungan (Vervolgscholen) didirikan untuk pertama kali di
Poso. Pemerintahan Hindia Belanda menyerahkan wewenang penyelenggaraan
pendidikan di daerah teluk Tomini mulai dari utara sampai selatan kepada utusan
Zwnding di Poso.
Sampai pada tahun 1916, guru-guru yang
mengajar dan membantu Zending adalah orang Minahasa. Tahun 1930 pemerintah
memberi kesempatan kepada Zending untuk membuka Hollands Indlandsche School
(HIS), lama pendidikannya tujuh tahun diperuntukan bagi anak-anak raja dan
orang-orang berada deng subsidi di Poso dengan kepala sekolahnya tuan Hoefman
dan tahun 1936 tuan Hoefman digantikan oleh tuan H. Silalahi sampai datangnya
Jepang. Untuk memperoleh tenaga guru di Poso, pada tahun 1913 Alb. C. Kruijt
membuka sekolah pendidikan guru di Pendolo yang dikepalainya sendiri hingga
tahun 1919. Mula-mula yang bisa menjadi murid merupakan anak-anak yang diasuh
di rumah para utusan Zending namun lama kelamaan menerima pula murid dari luar.
Sekolah pendidikan guru yang mula-mula di Poso dipindah ke Tentena oleh Jan
Kruijt anak dari Alb. C. Kruijt.
Sekolah pendidikan guru yang tadinya
berlangsung dua tahun menjadi tiga tahun dan kemudian empat tahun. Dan setelah
dinyatakan terbuka bagi orang-orang dari luar Poso, maka berdatanglah
murid-murid menuntut ilmu di Tentena.
a. Mulai
tahun 1925 tiap tahun Balai Keselamatan di Palu mengirim sejumlah anank
laki-laki untuk dididik menjadi guru pada sekolah pendidikan guru di Tentena.
b. Tahun
1928 murid-murid dari sekolah Zending Luwuk dikirim secara teratur melanjutkan
ke Tentena.
c. Pada
tahun yang sama dikirim pula murid-murid dari Kolaka dan Kendari (Sulawesi
Tenggara) ke sekolah pendidikan guru Tentena setiap tahun.
d. Tahun
1939 secara teratur tiap tahun dikirim murid-murid dari Bolaang Mangondow
(Sulawesi Utara) ke sekolah pendidikan guru Tentena[12].
Setelah banyak anak daerah yang
menamatkan pendidikannya di sekolah pendidikan guru, maka mulai
berangsur-angsur sekolah-sekolah di Sulawesi Tengah diajar oleh anak daerah
sendiri. Sedangkan untuk daerah kab. Buol atau Toli-toli waktu itu belum
terjangkau oleh para utusan Zending karena penduduknya hampir seluruhnya
beragama Islam. Pada tanggal 17 Februari 1932, O. M. Kandow seorang guru asal
Minahasa mandapatkan anugrah “Bintang Perak Besar” atas jasa-jasanya memajukan
pendidikan di daerah Buol. Akan tetapi meskipun telah banyak sekolah-sekolah
yang telah dibuka oleh Belanda, masyarakat masih merasa takut. Mereka
beranggapan bahwa kalau tamat nanti akan dijadikan serdadu atau mereka akan
dikristenkan.
Tahun 1917 di Kantaman (Palele), Bogo
dan Litindu didirikan sekolah Partipulir. Pada tahun 1922 semua sekolah
Partiputir itu dijadikan Bestuurs Volkschool (BVC) sekolah yang diperuntukkan
bagi orang biasa sedangkan anak-anak bangsawan dikirim ke sekolah HIS Manado
dan Gorontalo.
Dalam bidang pendidikan di Sulawesi
Tengah, Belanda hanya berhasil mendirikan Vervolg School (SD kelas 5) tidak
lebih dari 20 buah. Sedangkan HIS kebanyakan diusahakan oleh swasta sebanyak
lima buah yakni HIS Tanam Putra di Palu, HIS Zending Kristen di Poso, HIS
Muhammadiyah, dan HIS Netral[13].
6. Kesenian
Kesenian yang berkembang di Sulawesi
Tengah pada waktu itu adalah kesenian yang mendapatkan pengaruh dari Islam dan
Krisaten. Kesenian Islam seperti Gambusyang diiringi tarian Dana-dana (Jepeng),
Rambana yang dipertunjukkan di pesta-pesta tertentu yang berkembang beriringan
dengan kesenian asli rakyat baik berupa seni rupa, seni tari, seni suara,
maupun seni sastra. Sedangkan pengaruh yang dibawa oleh Belanda seperti Dansa
diiringi musik menggunakan alat musik dari Barat dan hanya dinikmati dan
dirayakan oleh orang-orang tertentu.
Pada tahun 1925, di Buol telah ada musik
bambu di sekolah Palele yang diusahakan oleh seorang Guru bernama Z. Kawaatu
yang membentuk group musik kemudian datang alat musik dari Eropa seperti Biola,
Gitar, Banyo, Kulele, dan Jazz. Gambus telah dimodernkan dan sering dimainkan
bersama dengan alat-alat dari Eropa.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil
dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Pemerintahan
Hindia Belanda di Sulawesi Tengah pada kurun waktu antara 1900-1942 telah
sangat terorganisir. Dimana tiap-tiap propinsi dibagi dalam Afdeling yang
dikepalai oleh seorang Residen yang berasal dari turunan Belanda totok atau
Indo-Belanda. Tiap-tiap Afdeling terbagi lagi kedalam Onderafdeling yang
masing-masing dikepalai oleh kontrolir atau Civiel Gezaghebber yang juga
merupakan turunan Belanda totok atau Indo-Belanda. Di bawah ini baru dijumpai
Landschap yang dikepalai oleh seorang raja. Raja-raja ini biasanya diakui oleh
pemerintahan Belanda karena pro terhadap Belanda atau karena hasil pengangkatan
Belanda yang dapat menjalankan pemerintahan sesuai keinginan Belanda.
2. Proses
terjadinya pergerakan nasional di Sulawesi Tengah di latar belakangi oleh rasa
ketidakpuasan terhadap pemerintahan Belanda. Pada awalnya penentangan ini
berupa kekerasan namun setelah perlawanan dalam bentuk kekerasan ini dapat
ditekan oleh pihak Belanda maka jenis perlawanan berubah menggunakan wadah
organisasi. Organisasi politik, sosial maupun agama ini pada awalnya merupakan
pengaruh dari organisasi-organisasi yang berada di Jawa. Organisasi yang
pertama tiba pengaruhnya pada masyarakat di Sulawesi Tengah adalah Syarekat
Islam (SI), kemudian disusul oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Muhammadiyah. Walaupun organisasi-organisasi
pergerakan nasional ini memiliki latar yang berbeda-beda namun memiliki tujuan
yang sama yaitu membawa ide kebangsaan yang ditanamkan pada masyarakat untuk
memperjuangkan terbentuknya masyarakat Indonesia yang bebas merdeka dan lepas
dari tangan penjajahan.
3. Kehidupan
masyarakat di Sulawesi Tengah dalam kurun waktu 1900-1942 hidup dalam tekanan.
Masyrakat di Sulawesi Tengah dipaksa untuk membayar pajak dan melakukan kerja
rodi baik dalam pembuatan jalan raya maupun penanaman ladang. Selain itu dengan
kedatangan Belanda ke Sulawesi Tengah beriringan dengan penyebaran agama
Kristen. Untuk mendapatkan tenaga kerja yng terdidik dan murah, pemerintahan
juga memulai membuat sekolah-sekolah bagi masyarakat. Dimulai dari sekolah
kelas dua di pedesaan dan kelas satu di perkotaan. Namun seiringnya dengan
berjalanya waktu dan datangnya pengaruh dari organisasi pergerakan nasional
maka semakin banyak sekolah-sekolah yang didirikan guna untuk memajukan pendidikan
dan membuka pemikiran rakyat Indonesia. Tradisi dan kesenian yang ada di
Sulawesi Tengah sedikit banyak juag terpengaruh oleh keadaan yang sedang
berkembang terutama tradisi Islam dan Kristen. Pengaruh kebudayaan Eropa juga
mulai masuk namun untuk hal ini hanya dapat diadakan dan dinikmati oleh
kalangan-kalangan tertentu.
Daftar Pustaka
1. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan
Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi
Tengah Tahun Anggaran 1996/1997. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.
2. A.K.Pringgodigdo
SH. 1994. Sejarah Pergerakan Rakyat
Indonesia. Jakarta: PT.Dian Rakyat.
3. Kartodirdjo,
Sartono, Marwatie Djoened, dan Nugroho Notosusanto.1997. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
4. M.C.
Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern
1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
[1]
A.K.Pringgodigdo SH.1994.Sejarah
Pergerakan Rakyat Indonesia.Jakarta:PT.Dian Rakyat.hlm VI.
[2]
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat
Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai
Budaya Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 1996/1997. Sejarah Daerah Sulawesi
Tengah.hlm 101.
[3]
Ibid.
[4]
Ibid.
[5]
Ibid.hlm 103.
[6]
Ibid.
[7]
Ibid.hlm 104.
[8]
Ibid.hlm 106.
[9]
Ibid.,hlm 118.
[10]
Ibid.,hlm 122.
[11]
Ibid.,hlm 126.
[12]
Ibid.,hlm 128.
[13]
Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar